Anak Tewas dalam Kecelakaan, Keluarga Korban Desak Cybertruck Dilarang Melintas di Jalan Umum

Anak Tewas dalam Kecelakaan, Keluarga Korban Desak Cybertruck Dilarang Melintas di Jalan Umum

Otomotif | inews | Senin, 12 Januari 2026 - 13:52
share

JAKARTA, iNews.id – Tragedi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan Tesla Cybertruck menewaskan seorang remaja berusia 14 tahun di Amerika Serikat. Insiden tersebut memicu desakan dari keluarga korban agar kendaraan listrik berdesain futuristik itu dilarang beroperasi di jalan raya umum.

Dilansir dari Carscoops, Senin (12/1/2026), kecelakaan terjadi ketika pengemudi Tesla Cybertruck diduga melaju ke jalur berlawanan dan menabrak sebuah Toyota Corolla. Di dalam kendaraan tersebut terdapat Malachi James yang kemudian dinyatakan meninggal dunia akibat benturan keras.

Pasca kejadian, keluarga korban mempertanyakan kelayakan Cybertruck untuk berbagi jalan dengan kendaraan lain. Mereka bahkan meminta pemerintah Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan kebijakan pelarangan seperti yang diterapkan di sejumlah wilayah Eropa.

“Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mencari cara agar kendaraan ini bisa disingkirkan dari jalanan,” ujar bibi Malachi, Royael Saez, kepada WTNH.

Menurut keluarga, Cybertruck dinilai terlalu besar dan memiliki kecepatan yang tidak sebanding dengan lalu lintas umum. Mereka meyakini karakteristik kendaraan tersebut meningkatkan risiko fatal jika terjadi kecelakaan. “Kami tidak percaya dengan kendaraan seperti tersebut. Ini adalah tank,” kata Saez.

Saez juga menyinggung larangan Cybertruck di beberapa kota Eropa. “Sepengetahuan kami, kendaraan ini sudah dilarang di seluruh Paris, jadi jelas mereka tahu bahwa kendaraan seperti ini seharusnya tidak berada di jalan,” ujarnya.

Di sisi lain, Tesla Cybertruck diketahui telah memenuhi standar keselamatan kendaraan di Amerika Serikat. Mobil ini bahkan mengantongi peringkat bintang lima dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA). Meski demikian, para pakar menilai ukuran dan bobot kendaraan tetap menjadi faktor krusial dalam menentukan tingkat keparahan kecelakaan.

Dr Eric Jackson dari Connecticut Transportation Institute menjelaskan bahwa Cybertruck memiliki struktur bodi yang sangat keras dan berat. Dalam tabrakan dengan kendaraan lain, perbedaan massa dapat berdampak fatal.

“Kendaraan ini sangat besar, sangat berat…strukturnya unibody, jadi kerangkanya utuh dan kokoh,” ujar Jackson.

Menurut Jackson, Cybertruck juga dilengkapi 11 kamera yang mampu merekam data sensor saat terjadi kecelakaan. Data tersebut digunakan penyelidik untuk menganalisis penyebab dan dampak tabrakan. Sebagai catatan, varian Cybertruck paling ringan memiliki bobot mencapai 6.634 pound atau lebih dari 3 ton.

Kasus ini kembali memantik perdebatan soal batas aman kendaraan berukuran besar di jalan umum, terutama di tengah meningkatnya adopsi mobil listrik berdesain ekstrem.

Topik Menarik