China Diprediksi Capai Puncak Emisi Karbon Tahun Ini
IDXChannel - Pemulihan perekonomian pasca Covid-19 mendorong produksi listrik di China. Namun, teknologi energi bersih membantu negara tersebut mengurangi emisi.
Dilansir dari Bloomberg pada Jumat (12/5/2023), emisi meningkat sebanyak empat persen pada kuartal I-2023 dan diperkirakan akan mencapai puncak tertinggi tahun ini, menurut studi yang dilakukan oleh Centre for Research on Energy and Clean Air for Carbon Brief (CREA)
Disaat yang sama perkembangan energi angin, surya, dan nuklir semakin pesat. Hal tersebut membantu China mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dalam jangka panjang.
"Setelah 2023, ekspansi energi rendah karbon yang cepat dan berkelanjutan dapat memungkinkan emisi mencapai puncaknya dan memulai penurunan, setelah pemulihan pasca-Covid terjadi," analis CREA, Lauri Myllyvirta dan Qi Qin, mengatakan dalam laporan tersebut.
Sebelumnya, Beijing memperkirakan negaranya akan mencapai puncak emisi sebelum 2030. Saat ini, Pemerintah China menjalankan dua pendekatan dalam hal pengelolaan energi.
Di satu sisi, Beijing ingin memenuhi kebutuhan ekonomi dan keamanan energi di negaranya. Di sisi lain, China ingin mencapai target emisi nol pada 2060.
Tahun ini, pemulihan ekonomi China, stimulus infrastruktur dan lemahnya pembangkit listrik tenaga air mendorong lebih banyak konsumsi minyak, batu bara dan gas, menurut CREA. Sementara itu, instalasi tenaga surya dan angin mencapai rekor dan pihak berwenang mempercepat persetujuan dan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Dalam sebuah laporan bulan lalu, para peneliti dari lembaga think tank Ember juga mengatakan bahwa sektor energi bersih China semakin berkembang. Keberhasilan China dapat memiliki implikasi global.
"China adalah negara dengan pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di dunia, namun juga pemimpin dalam pembangkit listrik tenaga angin dan matahari," ujar analis Magorzata Wiatros-Motyka dalam laporan tersebut.
"Apakah puncak produksi bahan bakar fosil secara global akan terjadi pada 2023, sebagian besar tergantung pada China," lanjutnya.
(WHY/Anggerito Kinayung Gusti)




