Daftar 5 Cedera yang Sering Dialami Pembalap MotoGP, Nomor 1 Ancam Karier!
DAFTAR lima cedera yang sering dialami pembalap MotoGP menarik diulas. Sebab, ajang balap motor termasuk cabang olahraga ekstrem dengan tingkat risiko tinggi.
Meski sudah ditopang berbagai aturan keselamatan dan pengamanan, setiap pembalap tetap berpotensi mengalami cedera. Mulai dari ringan hingga berat, semua berpotensi mengakhiri karier seseorang.
Risiko itu tak lepas dari kecepatan yang dicapai di lintasan. Seorang pembalap MotoGP mampu memacu motornya hingga 360 km/jam sehingga kecelakaan pada kecepatan tersebut berpeluang berakibat fatal.
Lantas, cedera apa saja yang paling sering dialami para pembalap MotoGP?
1. Patah Tulang Selangka (Klavikula)
Fraktur atau patah tulang menjadi cedera yang paling sering dialami pembalap MotoGP. Bagian tubuh yang kerap terdampak meliputi lengan, pergelangan tangan, kaki, dan tulang selangka, akibat benturan keras saat pembalap terjatuh.
Kisah Unik Sumaya, Mantan Atlet Takraw Indonesia yang Sukses Sabet Perak Teqball di Asian Games 2026
Dilansir dari laman resmi PubMed Central (PMC), penelitian yang melibatkan Tim Medis MotoGP pada periode 2013-2017 menempatkan cedera ini sebagai fraktur yang paling sering membutuhkan tindakan operasi di bagian tubuh atas, dengan proporsi mencapai 21 persen. Bahkan, ini bisa mengancam karier seorang pembalap!
2. Arm Pump (Sindrom Kompartemen)
Dilansir dari laman resmi MotoGP, arm pump dalam istilah medis disebut sindrom kompartemen kronis. Pembalap tim Red Bull KTM Pedro Acosta menjadi salah satu yang pernah mengalaminya. Ia menjalani operasi pada lengan kanan bawah untuk mengatasi gangguan tersebut seusai tes di Sirkuit Jerez.
Arm pump bukan disebabkan oleh otot pembalap yang kurang kuat. Kondisi ini muncul akibat tekanan besar pada lengan saat pembalap melakukan pengereman keras dari kecepatan tinggi.
Tekanan tersebut membuat otot lengan membengkak dan terjepit di dalam jaringan pembungkusnya. Akibatnya, aliran darah terhambat. Pembalap pun merasakan tangan kaku hingga kehilangan tenaga saat mengendalikan motor.
Untuk mengatasinya, sebagian pembalap memilih menjalani operasi fasiotomi. Prosedur medis ini membuka jaringan pembungkus otot agar otot memiliki ruang lebih luas dan tekanan pada lengan berkurang.
3. Cedera Kepala dan Gegar Otak
Cedera kepala masih menjadi salah satu resiko terbesar bagi pembalap MotoGP, meski helm yang dikenakan sudah dirancang dengan teknologi mutakhir. Gegar otak terjadi ketika kepala menghantam keras permukaan lintasan atau benda lain, sehingga otak bergerak di dalam tengkorak.
Dampaknya beragam, mulai dari kehilangan kesadaran, gangguan keseimbangan, hingga pusing. Dalam kasus yang lebih serius, cedera ini bahkan berpotensi merusak otak dalam jangka panjang.
Karena itu, pembalap yang mengalami gegar otak umumnya harus menjalani serangkaian tes medis untuk memastikan kondisinya sebelum diizinkan kembali turun balapan. Salah-salah, nyawa bisa jadi terancam!
4. Luka Bakar dan Lecet
Luka bakar kerap dialami pembalap saat tergelincir di aspal pada kecepatan tinggi, meski sudah mengenakan pakaian pelindung berteknologi canggih. Selain itu, luka lecet atau abrasi juga bisa terjadi ketika pembalap terjatuh dan terseret di permukaan lintasan.
Gesekan dengan aspal dapat membuat kulit robek, sekalipun pakaian balap sudah dirancang untuk mencegah cedera tersebut. Kendati demikian, cedera tetap menjadi bagian yang tak terhindarkan dari olahraga ekstrem ini.
Kemampuan pembalap untuk pulih dengan cepat pun menjadi faktor penting dalam menunjang performa mereka di lintasan. Apalagi, luka lecet bisa meninggalkan bekas yang cukup terlihat di tubuh.
5. Cedera Bahu
Bahu menjadi salah satu bagian tubuh yang rentan cedera karena pembalap cenderung mendarat dengan bahu saat terjatuh. Pada kasus yang lebih parah, ligamen di sekitarnya dapat robek. Dislokasi bahu pun termasuk cedera yang kerap dialami pembalap MotoGP.
Selain itu, benturan keras pada bahu juga berpotensi menyebabkan patah tulang di area tersebut. Cedera bahu umumnya memerlukan waktu penyembuhan yang cukup lama, disertai rehabilitasi untuk mengembalikan kekuatan dan mobilitasnya.









