Xavi Hernandez Resmi Jadi Pelatih Timnas Belanda hingga Piala Dunia 2030
3 siswa Indonesia berhasil membawa pulang dua medali perak dan satu medali perunggu bidang sains nuklir di ajang International Nuclear Science Olympiad (INSO) ke-3, yang berlangsung di Arab Saudi pada 2 hingga 9 Agustus 2026.
Dua medali perak diraih Gusti Komang Abhika Atmaja dan Aloysius Gonzaga Duta Setyawan. Sedangkan Faris Patria Chariansyah berhasil membawa pulang medali perunggu.
Ketiga siswa tersebut dibina Badan Riset dan Inovasi Nasional ) melalui Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir). Pembinaan tersebut dilakukan pada aspek penguatan teori hingga praktikum delegasi sebelum berkompetisi.
Baca juga: Mensesneg Bangga Siswi Sekolah Rakyat Jadi Anggota Paskibraka HUT RI di Istana
INSO merupakan bagian dari IAEA Project Number RAS0095: ‘Supporting Nuclear Science and Technology Education at the Secondary and Tertiary Levels – Phase II.’“Keberhasilan meraih tiga medali pada INSO ke-3 tidak hanya menjadi prestasi bagi para siswa, tetapi juga mencerminkan hasil dari proses pembinaan, pendampingan, dan kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung pengembangan generasi muda di bidang nuklir,” ungkap Direktur Poltek Nuklir BRIN, Zainal Arief, dikutip dari laman BRIN, Kamis (13/8/2026).
Delegasi Indonesia pada INSO ke-3 terdiri atas dua orang team leader dosen Poltek Nuklir BRIN, yaitu Fifi Nurfiana dan Lutfi Aditya Hasnowo, serta empat siswa yaitu Hilmy Lazuardhy Nurramadhan, Faris Patria Chariansyah, Gusti Komang Abhika Atmaja, dan Aloysius Gonzaga Duta Setyawan.
Baca juga: Cara Tutup Rekening KJP Plus bagi Siswa yang Sudah Lulus, Siapkan 8 Dokumen Ini
“Bangga dengan perjuangan tim Indonesia selama mengikuti INSO ke-3. Sejak proses pembinaan sampai kompetisi, para siswa menunjukkan semangat dan kerja keras,” ungkap Fifi.
Menurutnya, tiga medali yang berhasil diraih merupakan pencapaian yang membanggakan sekaligus menjadi pengalaman para siswa berkompetisi di tingkat internasional. Hal tersebut menjadi bekal penting bagi para talenta muda di bidang sains nuklir ini.“Semoga pengalaman ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berkembang dan menginspirasi generasi muda Indonesia di bidang sains nuklir,” lanjutnya.
Lutfi menerangkan, persiapan delegasi dilakukan melalui program pembinaan yang dilaksanakan Poltek Nuklir BRIN sebagai bagian dari skema Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Para dosen dan pengajar Poltek Nuklir BRIN memberikan pembelajaran dan pendampingan dengan materi yang disusun mengacu pada silabus INSO.
“Pembinaan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan peserta agar memiliki pemahaman dan kompetensi yang diperlukan untuk berkompetisi di tingkat internasional,” ungkap Lutfi.
Pembinaan berlangsung secara daring pada 6–24 Juli 2026, dilanjutkan luring pada 27–31 Juli 2026 di kampus Poltek Nuklir.
Keikutsertaan Indonesia dalam INSO ke-3 memperoleh dukungan pembiayaan dari International Atomic Energy Agency (IAEA). Sementara itu, proses pembinaan dan dukungan teknis bagi delegasi Indonesia dilaksanakan oleh Poltek Nuklir BRIN dan International Nuclear Agency (INuA) Indonesia.









