Ogah Buru-Buru Ikat Janji Setia, Max Verstappen Tolak Proposal Kontrak Jangka Panjang Red Bull Racing
MASA depan Max Verstappen di Red Bull Racing kembali menjadi sorotan hangat. Di tengah performa tim yang dinilai sedang biasa-biasa saja pada awal Formula One (F1) 2026, pembalap asal Belanda ini dilaporkan langsung memberikan respons menohok saat disodori proposal perpanjangan kontrak baru.
Pertandingan F1 secara live dapat disaksikan streaming di Vision+ channel beIN Sport dengan klik di sini.
Verstappen sebenarnya menghadiri serangkaian pertemuan dengan manajemen tim Red bull untuk mengevaluasi performa mobil dan mencari jalan keluar dari situasi sulit saat ini. Ia sama sekali tidak menduga bahwa agenda masa depannya akan ikut diangkat ke meja perundingan.
Mantan pembalap F1 yang kini menjadi pengamat, Ralf Schumacher, membocorkan situasi rapat krusial yang berlangsung di markas tim, Milton Keynes tersebut dalam podcast Backstage Boxengasse. Red Bull kabarnya menyodorkan draf perpanjangan kontrak berdurasi enam tahun.
1, Sikap Dingin Verstappen
Menurut Schumacher, dinamika internal Red Bull tampak mengalami pergeseran. Peran Managing Director Red Bull, Oliver Mintzlaff, disebut-sebut mulai meredup setelah kepergian figur penting seperti Helmut Marko dan Christian Horner.
Alih-alih Mintzlaff, Mark Mateschitz kini mengambil alih prioritas pengembangan tim, yang menjadi alasan mengapa Verstappen sempat terlihat berada di Austria. Terkait tawaran kontrak panajang dari manajemen Red Bull, Schumacher membeberkan reaksi blak-blakan sang juara dunia bertahan.
"Saya merasa mereka (Red Bull) agak kehilangan rasa saling percaya. Saya dengar mereka sangat ingin agar Max menandatangani kontrak hingga tahun 2032,” ungkap Schumacher, dilansir dari Crash, Senin (29/6/2026).
"Namun, Max kabarnya menolak dan berkata, 'Yah, saya tidak butuh itu sekarang. Kontrak saya toh masih ada sampai 2028, jadi saya lebih baik menunggu dan melihat situasi dulu,'" tambah Schumacher.
Keberanian Verstappen untuk menolak tawaran tersebut bukan tanpa alasan. Pembalap berkebangsaan Belanda ini diketahui memiliki klausul keluar (exit clause) dalam kontraknya saat ini. Klausul tersebut menyatakan bahwa jika Verstappen berada di luar posisi dua besar dalam klasemen Pembalap menjelang jeda musim panas, ia berhak angkat kaki dari tim.
Saat ini, Verstappen berada di peringkat dua besar, bahkan ia tak bisa menembus lima besar. Di sisi lain, performa jet darat Red Bull kian tertinggal dari Mercedes dan Scuderia Ferrari yang terus memperlebar jarak di puncak klasemen setiap pekannya.
2. Rencana Darurat Red Bull
Sadar bahwa peluang Verstappen untuk menembus posisi dua besar sebelum jeda musim panas sangat tipis, manajemen Red Bull dilaporkan mulai menyiapkan rencana darurat demi memagari pembalap utama mereka.
Melansir laporan dari Sports Bild, Red Bull berniat untuk membeli klausul keluar tersebut. Demi membujuk juara dunia empat kali itu agar mau menghapus klausul tersebut, tim siap menggelontorkan dana kompensasi hingga puluhan juta euro. Menarik tentunya apakah Verstappen tergiur dengan dana kompensasi itu atau justru ia tetap memutuskan cabut dari Red Bull.









