79 Jam Menembus Gunung dan Pantai Flores, Juney Hanafi Jadi Raja Lintang Flores 2026!
EDISI ketiga ajang ultra cycling internasional Lintang Flores 2026 resmi berakhir setelah batas cut-off time (COT) pada Kamis, 7 Mei, pukul 10.00 WITA . Tercatat 20 ultra cyclist dari berbagai negara berhasil menaklukkan medan berat dan mencapai garis finis di TA’AKTANA, Luxury Collection Resort & Spa Labuan Bajo.
1. Pembalap Indonesia Cetak Sejarah
Ultra cyclist asal Malang, Juney Hanafi, mencatat sejarah sebagai pemenang pertama asal Indonesia di Lintang Flores 2026, setelah dua edisi sebelumnya dimenangkan pesepeda dari UK dan Australia. Ia menuntaskan rute 1.034 km dengan elevasi 19.000 meter antara Labuan Bajo–Maumere–Labuan Bajo dalam waktu 79 jam 5 menit.
Hasil 16 Besar Badminton Asia Championships 2026: Fajar/Fikri dan Faathir/Devin Lolos Delapan Besar
Posisi kedua dan ketiga tahun ini diraih Muhammad Ghanez Athoriq dan Muhammad Irwan, masing-masing dengan catatan waktu 80 jam 21 menit dan 82 jam 5 menit. Sementara itu, juara Bentang Jawa kategori wanita asal Belanda, Charlotte Troost, mencatatkan diri sebagai finisher pertama kategori wanita di ajang ini dengan catatan waktu 87 jam 48 menit. Di garis finis, Juney Hanafi membagikan kisah perjuangannya kepada crew Lintang Flores.
"Rutenya luar biasa—naik turun gunung dan pantai ratusan kali. Untuk yang akan ikut, siap-siap nanjak. Saya merasa gear saya kurang, jadi di beberapa tanjakan cadence mulai drop. Pada KM 800 ke atas, saya bahkan sempat mendorong sepeda," ujar Juney Hanafi.
2. Ditemani Kurma dan Nasi Kuning
Ia juga bertutur sekantung kurma dan nasi kuning menjadi teman setia sepanjang melintasi pulau Flores. Pengaturan sepeda yang digunakannya pun relatif sederhana—sebuah simbol bahwa ultra cycling adalah arena yang inklusif dan terbuka bagi siapa saja.
Perjalanannya menuju garis start juga menyimpan cerita: Juney bersepeda dari Malang ke Surabaya, lalu menempuh 30 jam perjalanan laut hingga akhirnya tiba di Labuan Bajo.
3. Ultra Cycling: Kisah Inklusivitas dan Solidaritas dari Labuan Bajo
Renaldus Iwan Sumarta, penggagas Lintang Flores 2026, kembali bersyukur atas suksesnya ajang yang berlangsung lancar dan aman. “Tahun ini istimewa, karena podium pertama hingga ketiga diraih pesepeda Indonesia.
Ini menegaskan semangat ultra cycling yang kian tumbuh di tanah air. Kemenangan mereka membuktikan bahwa ajang ini terbuka bagi siapa saja yang berani menguji batas diri.
“Alam Labuan Bajo dengan rute menanjak, cuaca ekstrem, dan medan menantang adalah keindahan sekaligus ujian, tempat tekad dan keteguhan lebih berarti daripada apa pun,” ujar Iwan.
Pada gelaran tahun ini, Lintang Flores kembali menyalurkan donasi, kali ini untuk renovasi ruang belajar mengajar di SMAK St. Yosef Freinademetz Mukusaki, Ende, yang sempat rusak akibat longsor.
Inisiatif ini menginspirasi peserta lomba untuk membuka donasi bersama melalui media sosial, sekaligus membuka mata banyak orang tentang perlunya perhatian untuk sarana pendidikan di Flores. Komitmen sosial ini hadir bersama cerita inspiratif para ultra cyclist di @lintangflores serta unggahan mereka di media sosial










