Kabar Baik! Indonesia Bisa Kirim 3 Klub Sekaligus di Kompetisi Asia via Jalur Rahasia
JAKARTA, iNews.id - Liga Indonesia berpeluang memiliki tiga wakil di kompetisi Asia melalui skema khusus yang diatur oleh AFC.
Secara normal, Indonesia hanya mendapat dua slot utama di kompetisi antarklub Asia, yaitu satu tiket ke AFC Champions League Two (ACL2) untuk juara liga dan satu tiket ke AFC Challenge League (ACGL) untuk runner-up.
Namun, ada skenario lain yang jarang dibahas dan bisa mengubah peta keterwakilan klub Indonesia di level Asia.
Jika runner-up Liga Indonesia mampu melaju jauh di ACGL dan keluar sebagai juara, status mereka akan berubah menjadi title holder sesuai regulasi AFC.
Mengacu pada aturan AFC Club Competitions – Entry Regulations (Edition 2025), khususnya Pasal 3.6.3, juara ACGL berhak tampil di ACL2 pada musim berikutnya.
Artinya, pada musim 2027/28, Indonesia berpotensi memiliki tiga wakil sekaligus di kompetisi Asia: dua klub di ACL2 dan satu klub di ACGL.
Bukan Tambahan Slot, Tapi Jalur Prestasi
Skema ini bukan penambahan kuota negara, melainkan hasil dari jalur prestasi klub yang berhasil menjadi juara di kompetisi tingkat Asia.
Dengan mekanisme tersebut, klub yang menjadi juara ACGL akan naik kasta dan mendapatkan tiket ke ACL2, sehingga slot tambahan terbentuk secara tidak langsung.
Dalam kondisi tertentu, jika runner-up liga kembali finis sebagai runner-up di musim berikutnya, slot kompetisi akan dialihkan ke peringkat di bawahnya sesuai aturan distribusi.
Namun, peluang ini tidak otomatis menguntungkan jika tidak dimanfaatkan dengan maksimal oleh klub Indonesia.
Sejauh ini, klub seperti Madura United dan Dewa United masih belum mampu memaksimalkan peluang di level ACGL.
Performa kedua klub menunjukkan bahwa tantangan di kompetisi ACGL dan ACL2 masih cukup berat untuk dihadapi.
Situasi ini membuat jalur tiga wakil Asia sebenarnya sudah terbuka cukup lama, tetapi belum pernah benar-benar dimanfaatkan.
Kini, pertanyaannya bukan lagi soal peluang di atas kertas, melainkan kesiapan klub Indonesia di lapangan.
Apakah runner-up Liga Indonesia berikutnya mampu menembus batas dan menjadi juara ACGL, sehingga membuka sejarah baru dengan tiga wakil di kompetisi Asia?










