Bodo/Glimt Pembunuh Raksasa: Dari Stadion 8.200 Kursi ke 16 Besar Liga Champions
MILAN, iNews.id - Bodo/Glimt mencetak sejarah besar dengan menyingkirkan Inter Milan dari Liga Champions usai menang agregat 5-2 atas finalis musim lalu, Rabu (25/2/2026) dini hari WIB. Klub kecil dari utara Lingkar Arktik itu melaju ke babak 16 besar kompetisi antarklub paling elite di Eropa.
Tim asuhan Kjetil Knutsen itu memastikan langkah spektakuler tersebut lewat dua kemenangan atas Inter. Hasil itu menjadi pencapaian terbesar sepanjang sejarah klub dan mempertegas lonjakan performa mereka dalam beberapa musim terakhir.
"Saya pikir ini malam yang luar biasa untuk klub, untuk para pemain, untuk kota dan juga untuk sepak bola Norwegia," kata Knutsen dikutip dari France 24.
"Kami tidak berbicara tentang target, kami berbicara tentang bagaimana tampil dan bagaimana kami bisa melangkah serta mengembangkan pemain dan tim. Sekarang saya pikir itu sangat penting," ujarnya.
Kemenangan atas Inter menjadi kemenangan keempat beruntun Bodo/Glimt di Liga Champions. Sebelumnya, Manchester City dan Atletico Madrid juga mereka tumbangkan pada dua laga terakhir fase liga, hasil yang mengantar mereka ke babak play-off gugur.
Dari Promosi ke Panggung Elite Eropa
Bodo/Glimt baru promosi ke kasta tertinggi Norwegia pada 2017, kompetisi yang selama tiga dekade didominasi Rosenborg. Sejak itu, mereka menjelma menjadi kekuatan baru dengan meraih empat gelar liga dalam enam musim terakhir.
Perjalanan Eropa mereka pun menanjak. Musim lalu, Bodo/Glimt menjadi tim Norwegia pertama yang mencapai semifinal kompetisi besar Eropa setelah melaju ke empat besar Liga Europa. Sebelum musim ini, capaian terbaik mereka ialah menyingkirkan Lazio lewat adu penalti di perempat final sebelum dihentikan Tottenham Hotspur.
Kini level mereka meningkat drastis. Tanpa deretan bintang dan dengan anggaran terbatas, Bodo/Glimt melangkah ke babak 16 besar Liga Champions dan berpeluang menghadapi Manchester City atau Sporting Lisbon pada fase berikutnya.
Sebelumnya, mereka kerap dianggap lawan sulit karena bermain di lapangan sintetis dan cuaca dingin ekstrem di Stadion Aspmyra yang berkapasitas 8.200 penonton. Namun kemenangan tandang atas Inter membuktikan kekuatan mereka tidak hanya bergantung pada kandang.
Alwi Farhan Tak Menyangka Lolos Final Indonesia Masters 2026, Ungkit Kenangan dengan Anthony Ginting
Bagi Inter, kekalahan ini menjadi pukulan telak. Klub tiga kali juara Eropa itu memiliki sejarah dan anggaran jauh lebih besar. Musim lalu mereka mencapai final setelah menyingkirkan Bayern Munich dan Barcelona.
Pelatih Inter, Cristian Chivu, mengakui kualitas lawan.
"Kami tahu Liga Champions sangat kompetitif, jika sebuah tim mencapai tahap ini berarti mereka menawarkan sesuatu," kata dia.
"Mereka menunjukkan itu di Dortmund, Madrid, melawan City dan dua kali melawan kami," ujarnya.
Kekalahan Inter juga menjadi simbol kemunduran klub-klub Italia di Eropa. Juventus dan Atalanta masih tertinggal dari Galatasaray dan Borussia Dortmund, membuka kemungkinan Italia tanpa wakil di 16 besar. Situasi ini menambah tekanan bagi sepak bola Italia yang tengah berupaya mengembalikan reputasi di level tertinggi.










