Barcelona Resmi Keluar dari European Super League, Hubungan dengan Real Madrid Kian Jauh
BARCELONA, iNews.id – Barcelona resmi keluar dari proyek European Super League. Klub Katalan itu mengirimkan pemberitahuan formal kepada European Super League Company dan klub-klub yang masih terikat, Sabtu (8/2/2026).
Keputusan tersebut diumumkan lewat pernyataan singkat yang hanya terdiri dari tiga baris. “FC Barcelona menginformasikan hari ini telah secara resmi memberitahukan European Super League Company dan klub-klub yang membentuknya terkait pengunduran diri dari proyek European Super League,” tulis pernyataan klub.
Barcelona tidak menyertakan alasan resmi dalam pengumuman tersebut. Langkah ini tetap dinilai sebagai penutup akhir keterlibatan klub berjuluk Blaugrana itu dalam proyek liga tertutup tersebut.
Keterlibatan Barcelona di European Super League bermula pada April 2021, saat rencana kompetisi tertutup yang didukung klub-klub elite Eropa memicu penolakan luas dari publik, tekanan politik, serta perlawanan UEFA.
Seiring waktu, Atletico Madrid, Juventus, AC Milan, Inter Milan, hingga seluruh klub Inggris memilih mundur. Real Madrid sempat menjadi satu-satunya klub yang bertahan, sementara posisi Barcelona lebih bersifat simbolis.
Momentum pengunduran diri ini dinilai berkaitan erat dengan agenda Presiden Barcelona, Joan Laporta, yang dijadwalkan mundur sementara pada Senin untuk memulai kampanye pemilihan ulang jelang pemungutan suara 15 Maret.
Laporta sebelumnya mengakui hubungan Barcelona dengan Real Madrid tidak berjalan baik. “Hubungan antara Barcadan Madrid buruk, hubungan itu rusak. Ada berbagai persoalan yang menjauhkan kami,” ujar Laporta jelang final Piala Super Spanyol bulan lalu.
Laporta Pilih Dekat dengan UEFA
European Super League menjadi satu-satunya benang penghubung tersisa antara Laporta dan Presiden Real Madrid, Florentino Pérez. Kini, ikatan tersebut resmi berakhir.
Beberapa tahun lalu, Laporta sempat tampil bersama Pérez dan mantan Presiden Juventus Andrea Agnelli di Barcelona, mempresentasikan visi Super League dan potensi ekonomi besar dari pertemuan rutin klub-klub elite.
Namun, sikap tersebut berubah seiring tekanan UEFA. Barcelona tengah berada dalam sorotan pelanggaran Financial Fair Play dan dijatuhi denda 60 juta euro atau setara Rp1,19 triliun, dengan 15 juta euro atau sekitar Rp298 miliar telah dibayarkan sambil menunggu proses banding.
Situasi tersebut membuat konfrontasi terbuka dengan UEFA semakin sulit. Media Katalan melaporkan Laporta menyadari biaya isolasi jauh lebih besar dibanding keuntungan Super League.
Tanda-tanda perubahan sikap terlihat Oktober lalu saat Laporta menghadiri rapat tahunan klub Eropa di Roma. “Kamu tahu kami berada di jalur membangun jembatan antara Super League dan UEFA. Barcelona memiliki posisi jelas dan pihak terkait sudah mengetahuinya,” kata Laporta.
Dalam acara Yayasan Cruyff, dia kembali menegaskan arah tersebut. “Kami mendukung upaya perdamaian dan klub-klub Super League kembali ke UEFA. Kami merasa sangat dekat dengan UEFA dan EFC,” ujarnya.
Laporta juga dilaporkan kembali menjalin hubungan dengan Presiden UEFA Aleksander Čeferin serta Nasser Al-Khelaïfi, Presiden Paris Saint-Germain yang kini memimpin European Football Clubs (EFC).
Format baru Liga Champions dengan jumlah laga lebih banyak dan potensi pendapatan lebih tinggi ikut memperkuat keputusan Barcelona meninggalkan Super League.
Barcelona juga dipastikan tidak terkena sanksi finansial, meski sebelumnya sempat muncul ancaman denda 300 juta euro atau sekitar Rp5,96 triliun. Isu tersebut disebut sudah diselesaikan Laporta.
Media La Vanguardia melaporkan salah satu target Barcelona berikutnya adalah kembali memegang peran penting di EFC, seiring mundurnya Laporta dan bendahara klub Ferran Olivé dari posisi yang berkaitan dengan Super League.









