Mentan Sebut Negara Lain Bisa Kiamat jika Indonesia Setop Ekspor Sawit

Mentan Sebut Negara Lain Bisa Kiamat jika Indonesia Setop Ekspor Sawit

Ekonomi | okezone | Selasa, 3 November 2026 - 09:28
share

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut negara-negara lain bisa menghadapi dampak besar atau bahkan mengalami kiamat jika Indonesia menghentikan ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Sebab, Indonesia merupakan produsen sawit terbesar dunia yang memasok kebutuhan sejumlah negara besar.

Menurut Amran, sawit memiliki daya tawar strategis di tingkat internasional. Bahkan, ia menilai penghentian pasokan komoditas tersebut dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan efek bom atom maupun nuklir.

"Contoh bahwa ini bisa mengubah dunia. Ini jauh lebih dahsyat bom atom. Ini jauh lebih dahsyat daripada nuklir. ini bisa mengubah peta dunia. Sawit ini kita produsen terbesar dunia. Ekspor kita ke India, China, Pakistan, Amerika, dan sebagainya," sebut Amran dikutip dari keterangan resminya, Selasa (3/11/2026).

Mentan menggambarkan besarnya ketergantungan negara lain terhadap pasokan sawit Indonesia. Menurutnya, jika ekspor dihentikan dan seluruh produksi dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, negara-negara tujuan ekspor akan merasakan dampak signifikan.

"Pertanyaan saya, kalau ini dihentikan, lalu dijadikan biosolar di dalam negeri, kiamat tidak negara lain? Kiamat ya, kalah enggak nuklir, bom atom? Kalah. Indonesia nanti tidak bergantung untuk pangan dan energi," lanjutnya.

 

Amran menilai pemanfaatan sawit untuk kebutuhan energi domestik juga dapat memperkuat kemandirian Indonesia. Dengan mengoptimalkan komoditas tersebut sebagai bahan baku biosolar, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.

Di sisi lain, pemerintah juga mencatat perkembangan swasembada pangan nasional. Indonesia telah mencapai swasembada pada 8 dari 11 komoditas pangan pokok strategis.

Delapan komoditas tersebut meliputi beras, jagung pakan, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi. Sementara itu, Indonesia masih membutuhkan pasokan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan kedelai, bawang putih, dan daging ruminansia.

Meski demikian, porsi impor ketiga komoditas tersebut tercatat tidak lebih dari 5 persen dari total kebutuhan konsumsi pangan nasional. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), total kebutuhan konsumsi 11 pangan pokok strategis diperkirakan mencapai sekitar 68,8 juta ton.

Topik Menarik