Peremajaan Sawit Diawali Ritual Baremah, Ternyata Ini Alasannya
JAKARTA - Di tengah pesatnya modernisasi sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia, ada sebuah komitmen untuk tidak meninggalkan akar tradisi. Khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar) dalam setiap fase penting operasional perkebunan, seperti peremajaan kebun (replanting).
Pelaksanaan ritual adat Baremah menjadi bagian penting sebelum kegiatan pembukaan atau peremajaan lahan perkebunan kelapa sawit di wilayah masyarakat adat Dayak, Kalimantan Barat. Ritual adat Baremah sebuah tradisi menyucikan dan meminta restu kepada Sang Pencipta (Jubata) serta alam semesta menjadi bagian tak terpisahkan sebelum perusahaan memulai aktivitas yang bersinggungan langsung dengan pembukaan atau peremajaan lahan.
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyudha menegaskan bahwa penghormatan terhadap adat istiadat adalah bagian dari identitas dan nilai luhur perusahaan sebagai agen pembangunan di daerah. Hal ini juga menjadi bagian operasional bisnis perkebunan skala besar dapat berjalan beriringan dengan pelestarian kearifan lokal.
"Bagi kami di PTPN IV PalmCo, keberlanjutan bisnis tidak bisa dilepaskan dari dukungan dan keharmonisan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi kami," katanya di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, keterlibatan dalam tradisi seperti Baremah di Kalimantan Barat adalah komitmen nyata untuk tumbuh bersama masyarakat. Pihaknya meyakini bahwa menjaga tradisi berarti merawat keseimbangan ekosistem dan sosial.
"Ini adalah standar operasional kami, maju bersama kemajuan zaman, tanpa pernah melupakan atau meminggirkan kearifan budaya yang telah menjaga alam ini selama berabad-abad," ujarnya.
Lebih jauh, pendekatan kultural ini terbukti efektif dalam meminimalkan potensi konflik sosial dan membangun rasa saling memiliki (sense of belonging) antara korporasi dan komunitas lokal. Praktik baik yang ditunjukkan oleh PTPN IV PalmCo ini diharapkan dapat menjadi role model atau cetak biru bagi pengelolaan industri perkebunan kelapa sawit yang berwawasan lingkungan dan peka terhadap tatanan sosial-budaya masyarakat adat di seluruh Indonesia.
Di tengah tantangan industri kelapa sawit global yang semakin menuntut standar keberlanjutan yang ketat, apa yang dilakukan di Kalimantan Barat ini menjadi pesan kuat, bahwa minyak sawit Indonesia tidak hanya diproduksi dengan memperhatikan standar agronomis, tetapi juga dengan tetesan keringat dan doa yang merawat harmoni antara manusia, alam, dan budaya.
Bagi masyarakat adat Dayak, tanah bukan hanya komoditas ekonomi, melainkan ruang hidup yang memiliki dimensi spiritual. Kesadaran inilah yang dijunjung tinggi oleh PalmCo melalui wilayah kerjanya, Regional V yang ada di Kalimantan.
"Tradisi Baremah ini adalah warisan leluhur kami untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ini bukan sekadar tentang peremajaan sawit, tetapi tentang bagaimana perusahaan hadir, menghargai, dan menyatu dengan adat istiadat kami. Harmoni seperti inilah yang menjamin keberlanjutan alam dan kedamaian di masyarakat," tambah Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Kembayan, Thomas.









