3 Musuh Bebuyutan Susy Susanti Terberat Sepanjang Sejarah, Nomor 1 Rival Utama dari China
KARIER gemilang legenda bulu tangkis tunggal putri Indonesia, Susy Susanti, tercatat dalam tinta emas sejarah olahraga nasional. Puncak kejayaannya tercipta saat ia berhasil menyumbangkan medali emas pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade Barcelona 1992.
Meski demikian, jalan menuju takhta tertinggi dunia tidak pernah dilalui Susy dengan mudah. Sepanjang kariernya, ada tiga rival kuat yang selalu memberikan perlawanan sengit dan menciptakan duel-duel legendaris di atas lapangan. Lantas siapa saja mereka?
Berikut 3 Musuh Bebuyutan Susy Susanti Terberat Sepanjang Sejarah:
1. Ye Zhaoying
Legenda tunggal putri asal China ini menjadi salah satu lawan yang paling sering dihadapi Susy, dengan total 21 kali pertemuan di berbagai ajang internasional. Salah satu pertarungan paling bersejarah terjadi pada partai puncak Piala Uber 1994.
Kala itu, Susy sukses menundukkan Ye Zhaoying melalui permainan dua gim langsung dengan skor 11-4 dan 12-10. Kemenangan krusial Susy tersebut menjadi penentu keberhasilan tim Indonesia mengalahkan China dengan skor tipis 3-2 sekaligus memboyong trofi Piala Uber ke Tanah Air.
2. Lee Young-suk
Tunggal putri Korea Selatan ini menjadi bagian dari momen kebangkitan fantastis Susy pada laga final Piala Sudirman 1989 di Jakarta. Dalam pertandingan tersebut, Lee Young-suk sempat mendominasi dengan merebut gim pertama 12-10 dan memimpin jauh 10-2 di gim kedua.
Namun, Susy secara luar biasa berhasil membalikkan keadaan untuk merebut gim kedua dengan skor 12-10, sebelum akhirnya melibas Lee Young-suk tanpa balas 11-0 di gim penentu. Aksi comeback spektakuler Susy ini membawa Indonesia menang 3-2 atas Korea Selatan dan mengamankan gelar juara.
3. Bang Soo-hyun
Di posisi teratas ada rival terberat sekaligus kompatriot Lee Young-suk dari Korea Selatan, Bang Soo-hyun. Pertemuan paling ikonik antara keduanya terjadi di partai final Olimpiade Barcelona 1992 yang menentukan takhta tertinggi bulu tangkis dunia.
Susy sempat kehilangan gim pertama setelah menyerah 5-11. Namun, dengan ketenangan dan daya juang luar biasa, legenda Indonesia ini bangkit di dua gim berikutnya lewat kemenangan telak 11-5 dan 11-3, yang mengantarkannya meraih medali emas Olimpiade bersejarah bagi Indonesia.









