Omzet UMKM Meroket Pasca MotoGP Mandalika 2026, Penjualan Tenun Tembus Rp10 Juta
JAKARTA - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencatat peningkatan penjualan selama ajang MotoGP Mandalika 2026 pada 9–11 Oktober 2026. Lonjakan jumlah pengunjung membuka peluang bagi pelaku usaha kuliner dan kerajinan lokal untuk meningkatkan omzet sekaligus memperluas pasar.
Ajang balap tersebut dihadiri 157.875 pengunjung. Sebanyak 202 pelaku UMKM bidang kuliner dan kerajinan turut berpartisipasi, sementara lebih dari 600 stan UMKM beroperasi di sekitar Sirkuit Internasional Mandalika.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan peningkatan penjualan adalah Sri Lestari, pemilik usaha kerajinan tenun modern khas Lombok, Riles Lestary. Selama ajang berlangsung, Sri mencatat penjualan hingga Rp10 juta, meningkat dibandingkan penjualan biasanya yang berkisar Rp2 juta hingga Rp4 juta.
“Alhamdulillah, kita penjualan terbesar kemarin. Biasanya Rp2 juta sampai Rp4 juta, kemarin bisa sampai Rp10 juta,” kata Sri, Selasa (13/10/2026).
Peningkatan penjualan juga dirasakan Dewi Anjani, salah satu pelaku usaha kuliner yang membuka stan di Bazar Mandalika. Ia mengatakan penjualan selama tiga hari penyelenggaraan MotoGP 2026 meningkat signifikan dibandingkan hari biasa.
“Apalagi ada event ini, benar-benar meledak. Biasanya cuma beberapa, kali ini (saat event) benar-benar luar biasa,” ujar Dewi.
Dewi lainnya, pemilik usaha Cocojel Lombok, juga memanfaatkan tingginya jumlah pengunjung untuk menjual produk olahan kelapa. Produk tersebut menarik minat pengunjung di tengah aktivitas balapan. Ia berharap kesempatan bagi UMKM lokal untuk berjualan dalam ajang internasional dapat terus berlanjut.
“Harapannya, event seperti ini terus melibatkan UMKM,” katanya.
Peningkatan aktivitas pengunjung turut membuka peluang bagi pelaku usaha kopi. Sakha, pemilik Epoh Roastery, memasarkan produk biji kopi olahannya melalui InJourney UMKM Expo. Menurut dia, kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen domestik dan mancanegara.
Dampak serupa dirasakan Samsudin, pemilik Coco Sam, usaha yang mengolah kelapa menjadi minyak kelapa dan virgin coconut oil (VCO). Ia mengatakan usahanya menerima banyak pesanan selama penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026.
“Banyak tamu asing dan domestik yang memesan minyak kelapa dan VCO ke kita,” kata Samsudin.
Usaha Coco Sam juga melibatkan ibu-ibu di sekitar Desa Sukadana, Lombok. Dengan meningkatnya pesanan selama acara berlangsung, kegiatan tersebut turut membuka peluang transaksi bagi usaha pengolahan kelapa setempat.
Kenaikan jumlah pembeli juga dirasakan Ani, pemilik warung seafood di sekitar Sirkuit Mandalika. Ia mengatakan warungnya lebih ramai selama penyelenggaraan MotoGP, dengan pembeli berasal dari masyarakat lokal maupun penonton yang datang untuk menyaksikan balapan.
“Dampaknya sangat ramai,” ujar Ani.
Peningkatan penjualan para pelaku UMKM tersebut menunjukkan bahwa ajang olahraga internasional dapat membuka peluang ekonomi bagi usaha lokal, terutama melalui meningkatnya jumlah pengunjung yang membutuhkan makanan, minuman, suvenir, dan produk khas daerah.
Berdasarkan informasi penyelenggara, dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2026 diperkirakan mencapai Rp5 triliun. Namun, angka tersebut mencakup dampak ekonomi secara keseluruhan dan tidak hanya berasal dari transaksi UMKM.
Selain penjualan langsung selama acara, partisipasi dalam bazar dan pameran juga memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memperkenalkan produk kepada konsumen baru. Peluang tersebut dapat membantu UMKM memperluas jangkauan pasar setelah ajang berakhir.
Meski demikian, besarnya manfaat ekonomi bagi setiap pelaku usaha dapat berbeda, bergantung pada jenis produk, lokasi berjualan, jumlah pembeli, dan biaya operasional selama acara berlangsung









