Menhub Sebut Produksi INKA Terbatas, Kebutuhan 8 Trainset KRL Belum Terpenuhi

Menhub Sebut Produksi INKA Terbatas, Kebutuhan 8 Trainset KRL Belum Terpenuhi

Ekonomi | okezone | Sabtu, 10 Oktober 2026 - 17:10
share

JAKARTA - Keterbatasan kapasitas produksi PT Industri Kereta Api (INKA) menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan armada kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek. Dari target pengadaan 35 trainset yang didanai melalui penyertaan modal negara (PMN), sebanyak delapan trainset belum masuk dalam rencana penyelesaian pengadaan. 

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, pemerintah mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) menuntaskan pengadaan 35 trainset KRL sesuai alokasi PMN yang telah disetujui pada 2023. Hingga Oktober 2026, pengadaan yang diproyeksikan rampung pada 2027 baru mencakup 27 trainset.

"Kita mendorong supaya KAI bisa memenuhi kekurangannya dengan penuhi dulu pengadaan yang sudah disetujui pada 2023 sebanyak 35 (trainset). Kita juga harus pastikan kelaikan dan aspek keselamatannya," ujar Dudy saat berbincang dengan awak media di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Dudy menjelaskan, dari total pengadaan yang sedang berjalan, sebanyak 11 trainset baru dari China telah didatangkan dan beroperasi. Sementara itu, 16 trainset lainnya dikerjakan oleh INKA.

INKA juga masih menyelesaikan tujuh trainset yang sebelumnya sempat bermasalah. Dari jumlah tersebut, dua trainset ditargetkan selesai pada tahun ini, sedangkan tujuh trainset lainnya dijadwalkan rampung pada 2027.

Menurut Dudy, kapasitas produksi INKA menjadi salah satu kendala untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan armada. Rata-rata produksi perusahaan pelat merah tersebut hanya sekitar tiga trainset per tahun.

"Ada harapan supaya dapat segera terpenuhi. INKA ini memproduksi butuh waktu, kalau dilihat rata-rata (produksi) INKA per tahun itu tiga trainset," kata Dudy.

 

Kondisi tersebut mendorong pemerintah membahas sejumlah alternatif pengadaan, mulai dari produksi KRL baru oleh INKA, impor KRL baru, hingga mendatangkan KRL bekas dari Jepang. Pembahasan melibatkan Kemenhub, Danantara Indonesia, BP BUMN, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan.

Sebelumnya, Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria sebelumnya mengatakan, rencana impor KRL baru maupun bekas masih dalam tahap kajian. Keputusan akan mempertimbangkan aspek biaya dan manfaat, sekaligus menyesuaikan kebutuhan armada dengan kemampuan produksi industri dalam negeri.

"Kita seimbangkan antara kebutuhannya dengan kapasitas produksinya INKA. Sisanya, itu yang akan kita lakukan alternatif," ujar Dony di Jakarta, Jumat (2/10).

Dony menegaskan, opsi impor KRL bekas dari Jepang bukan berarti pemerintah mengabaikan produksi lokal. Menurut dia, INKA masih menghadapi keterbatasan kapasitas produksi dan tengah menjalani proses transformasi.

Di sisi lain, kebutuhan penambahan armada terus meningkat seiring pertumbuhan pengguna KRL Jabodetabek. VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda menyampaikan, jumlah penumpang pada Januari-September 2026 mencapai 271,48 juta orang, meningkat 6,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Rata-rata volume penumpang pada hari kerja mencapai 1,09 juta orang per hari, atau 34,69 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata akhir pekan yang sekitar 811.600 orang per hari.

Karina mengatakan, KAI Commuter bersama KAI terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memenuhi kebutuhan sarana KRL, termasuk menyesuaikan kapasitas angkut dengan pengembangan infrastruktur perkeretaapian.

Dia menyebut, dari target pengadaan 35 trainset baru, sebanyak 18 trainset telah selesai diproduksi dan dioperasikan. Adapun 17 trainset sisanya ditargetkan selesai diproduksi dan beroperasi secara bertahap hingga 2028.

KAI Commuter juga terus berkoordinasi dengan pemerintah dan industri dalam negeri untuk memastikan ketersediaan tambahan kapasitas angkut mulai 2027, seiring tren kenaikan jumlah pengguna Commuter Line Jabodetabek.

Topik Menarik