AS Usir Dua Diplomat Iran, Ketegangan dengan Teheran Kembali Memuncak

AS Usir Dua Diplomat Iran, Ketegangan dengan Teheran Kembali Memuncak

Terkini | okezone | Minggu, 4 Oktober 2026 - 21:10
share

JAKARTA - Amerika Serikat mengusir dua anggota delegasi Iran yang menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Keduanya disebut tetap berada di AS setelah diperintahkan meninggalkan negara tersebut. Informasi itu disampaikan seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS kepada AFP dan Axios, pada Sabtu 3 Oktober 2026.

“Dua anggota delegasi Iran lainnya ditemukan masih berada di New York, lama setelah Sidang Umum PBB berakhir. Mereka sekarang telah diusir dari AS,” kata pejabat tersebut kepada AFP, dilansir dari rt, Minggu (4/10/2026).

Pejabat itu menambahkan, bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengambil sikap tegas terkait keberadaan kedua diplomat tersebut.

Menurut Axios, salah satu diplomat meninggalkan AS pada Jumat malam, sedangkan diplomat lainnya berangkat pada Sabtu pagi.

Sebelumnya, Washington menyatakan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dan sejumlah diplomat lainnya diperintahkan meninggalkan AS lebih awal dari jadwal semula. Perintah tersebut disebut dikeluarkan Rubio setelah perundingan tidak langsung AS-Iran yang digelar melalui mediator pada bulan lalu gagal menghasilkan terobosan.

Namun, Misi Iran untuk PBB membantah versi Washington mengenai keberangkatan para delegasinya.

Misi Iran menyatakan seluruh anggota delegasi meninggalkan AS sesuai jadwal yang sebelumnya telah dikomunikasikan kepada pemerintah Amerika.

“Setelah tidak mencapai apa pun, Departemen Luar Negeri telah menggunakan cara menyebarkan berita yang tidak berdasar dan tidak berharga,” tulis Misi Iran untuk PBB melalui akun X pada Kamis.

 

Ancaman Konflik Kembali Meningkat

Perselisihan diplomatik tersebut terjadi ketika hubungan AS dan Iran kembali berada dalam situasi tegang.

Presiden AS Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir kembali melontarkan ancaman untuk “menghancurkan” kepemimpinan Iran. Trump juga mengisyaratkan kemungkinan memerintahkan serangan baru apabila Teheran tidak menerima persyaratan yang diajukan Washington.

Di sisi lain, pejabat Iran dan militer negara tersebut menyatakan siap menghadapi kemungkinan eskalasi.

Mohsen Rezaei, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyindir Trump melalui unggahan di X pada Jumat.

“Setelah satu kegagalan demi kegagalan, presiden terburuk dalam sejarah Amerika terus saja berbicara – dan berbicara – dan sekarang kata-katanya bahkan telah melampaui fantasinya sendiri,” tulis Rezaei.

“Anda bisa menang setiap hari dalam imajinasi Anda sendiri. Tetapi kenyataan dibentuk oleh Iran – oleh rakyatnya, tentaranya, dan rudalnya,” lanjutnya.

 

Ketegangan tersebut juga berlangsung ketika AS memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.

Gugus tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt dan gugus siap amfibi USS Makin Island dilaporkan tengah menuju kawasan tersebut. Kedatangan keduanya akan menambah sekitar 9.000 hingga 10.000 personel Angkatan Laut dan Korps Marinir AS.

Sementara itu, USS George Washington dan USS George H.W. Bush disebut telah beroperasi di kawasan tersebut.

Jika kedua kapal induk itu masih berada di Timur Tengah ketika USS Theodore Roosevelt tiba, AS berpotensi memiliki tiga kapal induk di kawasan tersebut pada akhir Oktober.

Sejumlah pejabat AS juga dilaporkan meyakini Trump dapat kembali menjalankan operasi tempur skala besar setelah pemilihan paruh waktu pada awal November.

Namun, konflik tersebut masih menghadapi penolakan dari masyarakat Amerika. Sebanyak 71 persen pemilih terdaftar dalam jajak pendapat Fox News terbaru menilai pemerintahan Trump tidak memiliki strategi yang jelas untuk mengakhiri konflik.

Topik Menarik