Pemicu Krisis Kesehatan Mental yang Paling Banyak Ditemukan, Masalah Keluarga Jadi yang Utama
KESEHATAN mental ramai disorot belakangan ini. Bahkan, layanan kesehatan mental makin diminati saat ini.
Krisis kesehatan mental dapat dipicu oleh berbagai persoalan dalam kehidupan, mulai dari masalah keluarga, tekanan finansial, hubungan sosial, hingga beban pekerjaan. Kondisi tersebut dapat dialami siapa saja, tidak terbatas pada kelompok usia tertentu.
Dalam program Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone, Annelia Sari Sani, S.Psi yang merupakan psikolog dan Ketua Bidang Kemitraan dan Komunikasi Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK ID) membeberkan penyebab utama krisis kesehatan mental saat ini. IPK Indonesia sendiri merupakan partner pengelolaan dan penyelenggaraan Program Bantuan Krisis Kesehatan Jiwa Healing119.id yang diselenggarakan oleh Kemenkes RI.
1. Masalah Keluarga Jadi Pemicu Utama
Anne menyebut masalah keluarga yang dimaksud tidak hanya berupa konflik atau pertengkaran antaranggota keluarga. Persoalannya dapat mencakup hubungan yang tidak harmonis, masalah komunikasi, konflik antara orang tua dan anak, hingga kondisi ketika seseorang merasa tidak mendapatkan dukungan dari keluarga.
Bahkan, keluarga yang tidak hadir secara emosional juga dapat menjadi persoalan. Ketika seseorang merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita atau mendapatkan dukungan, perasaan terisolasi dan kesepian dapat muncul.
Karena itu, masalah keluarga perlu dipahami secara luas. Tidak selalu ada pertengkaran besar untuk membuat seseorang mengalami tekanan psikologis. Perasaan tidak didengar, tidak dipahami, atau merasa sendirian di tengah keluarga juga dapat menjadi beban.
“Faktor yang paling tinggi dalam kondisi krisis itu masalah keluarga,” ujar Anne.
“Masalah keluarga tuh macam-macam mulai dari konflik di dalam keluarga sampai keluarga yang tidak hadir yg menyebabkan kesepian,” lanjutnya.
2. Persoalan Finansial Menjadi Faktor Berikutnya
Lagi Tren Intermittent Fasting, Bukan Cuma Turunkan Berat Badan tapi Bermanfaat ke Kesehatan Otak
Selain keluarga, Anne menyebut persoalan finansial menjadi salah satu masalah yang banyak muncul dalam kasus krisis psikologis. Tekanan ekonomi dapat berasal dari berbagai situasi, seperti kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, kehilangan pekerjaan, utang, maupun ketidakpastian mengenai kondisi keuangan.
Tekanan finansial yang berlangsung dalam waktu lama dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Terlebih ketika persoalan tersebut muncul bersamaan dengan masalah keluarga atau persoalan lainnya.
Namun, krisis kesehatan mental umumnya tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Berbagai tekanan dapat saling berkaitan dan membuat kondisi seseorang semakin berat.
“Kedua masalah finansial,” jelas Anne.
3. Krisis Mental Banyak Dialami Usia Produktif
Dari sisi usia, orang yang mengalami krisis psikologis banyak berasal dari kelompok usia produktif. Meski demikian, layanan dukungan kesehatan mental juga menjangkau kelompok usia yang jauh lebih luas. Pengakses dapat berasal dari anak-anak hingga lansia.
Bahkan, terdapat anak berusia sekitar 8–10 tahun yang membutuhkan dukungan terkait kondisi psikologisnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan hanya isu yang berkaitan dengan orang dewasa dan tekanan pekerjaan.
“Sebenarnya yang terbanyaknya di usia produktif tapi sebarannya dari umur sangat muda 8-10 tahun sampai lansia,” tutup Anne.






