Pendidikan Vokasi Diminta Selaras dengan Kebutuhan Industri
JAKARTA – Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) mendorong penguatan kolaborasi antara pendidikan vokasi dan industri untuk menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan sektor energi nasional. Upaya tersebut dibahas dalam Sarasehan Vol. III yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-44 PNJ, Kamis (1/10/2026).
Mengusung tema Membangun Sinergi Vokasi, Industri, dan Inovasi untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional, forum tersebut menyoroti pentingnya penyelarasan kurikulum, program magang, sertifikasi kompetensi, hingga riset terapan agar lulusan pendidikan vokasi memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Diskusi yang berlangsung di Gedung Perpustakaan Lantai 3 PNJ itu mempertemukan perwakilan pemerintah, perguruan tinggi, dan industri energi untuk membahas pengembangan sumber daya manusia sekaligus memperkuat ekosistem energi nasional.
Direktur PNJ, Syamsurizal, S.E., M.M., membuka rangkaian kegiatan tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan pidato pembukaan oleh Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno.
Sarasehan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Hubungan Kelembagaan, Prof. Tirta N. Mursitama; Vice President PT Sorik Marapi Geothermal Power, Ali Sahid; Corporate Secretary PT Badak LNG, Henny Trisnadewi; serta Senior Energy Economist ERIA, Alloysius Joko Purwanto. Diskusi dipandu oleh Nurin Swastiningrum.
Dalam pembahasan tersebut, hubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri menjadi salah satu fokus utama. Keterlibatan dunia usaha dalam proses pendidikan dinilai penting, terutama untuk memastikan kompetensi lulusan sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan tenaga kerja di sektor energi.
Sejumlah aspek yang menjadi perhatian meliputi penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, penguatan program magang dan apprenticeship, sertifikasi kompetensi, serta pengembangan riset terapan. Pemetaan kebutuhan industri juga menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan dunia kerja.
Selain pengembangan kompetensi, diskusi turut membahas tantangan sektor energi, mulai dari pengembangan energi panas bumi, pemanfaatan LNG, keselamatan kerja, teknologi, hingga daya saing dan investasi. Berbagai isu tersebut memberikan gambaran mengenai kebutuhan keahlian yang perlu diantisipasi oleh lembaga pendidikan vokasi.
Forum ini juga menyoroti bahwa ketahanan energi tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya dan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan serta mengembangkan teknologi tersebut.
Melalui Sarasehan Vol. III, PNJ mendorong agar kolaborasi dengan industri tidak terbatas pada penyediaan tempat magang, tetapi juga mencakup keterlibatan industri dalam mengidentifikasi kebutuhan kompetensi, menyusun kurikulum, hingga mendukung riset yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan di lapangan.
Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdialog langsung dengan para narasumber mengenai tantangan pendidikan vokasi dan perkembangan sektor energi.
Lagi Tren Intermittent Fasting, Bukan Cuma Turunkan Berat Badan tapi Bermanfaat ke Kesehatan Otak
Penutupan kegiatan disampaikan oleh Eko Putro Sandjojo, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi periode 2016–2019 sekaligus alumni PNJ angkatan 1983. Dalam sesi tersebut, kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan industri kembali menjadi salah satu pokok pembahasan.
Sarasehan Vol. III diselenggarakan atas inisiatif dan dukungan PNJ, Bicaraplus.id, dan PT Produksi Anak Bangsa, dengan dukungan sejumlah mitra industri dan media.
Melalui forum ini, PNJ berupaya memperluas ruang kolaborasi pendidikan vokasi dengan industri, terutama dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan sektor energi sekaligus mendukung pengembangan inovasi dan ketahanan energi nasional.






