Kasus Influenza A di Surabaya Melonjak, Benarkah Berbahaya?
JAKARTA - Kasus influenza A tengah meningkat di rumah sakit Surabaya. Kabar tersebut bersumber dari unggahan di media sosial yang menyebut bahwa sejumlah rumah sakit di Surabaya hampir penuh.
Akun Arek Suroboyo juga mengungkap bahwa RS PHC Surabaya membenarkan terjadinya lonjakan pasien sekitar 20 sampai 30 persen dalam sepekan terakhir. Diagnosis pasien juga beragam, mulai dari stroke, kecelakaan, penyakit jantung, hingga kasus yang mirip flu. Kasus mirip flu memang mengalami peningkatan, tetapi belum menjadi mayoritas pasien.
Sementara itu, RSI Surabaya A. Yani menyebut keluhan batuk dan pilek cukup banyak ditemukan, meski pasien datang dengan berbagai keluhan lainnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, mengatakan perubahan cuaca dan meningkatnya aktivitas masyarakat dapat memengaruhi kondisi kesehatan. Karena itu, masyarakat diimbau tetap menjaga daya tahan tubuh dan tidak perlu merasa cemas secara berlebihan.
Sering Ada Sisa Urine Menetes Usai Buang Air Kecil? Mengenal Post-Void Dribbling pada Pria
“Memang dalam beberapa waktu terakhir ada sedikit peningkatan kasus demam. Kondisi ini masih tergolong wajar dan dapat terjadi seiring perubahan cuaca serta meningkatnya aktivitas masyarakat,” ujar dr. Billy, Minggu (13/9/2026).
Apa Itu Influenza A? Berbahayakah?
Dokter Spesialis Anak Ian Suteja menjelaskan bahwa Influenza A H3N2 dengan subklade K merupakan infeksi flu yang gejalanya lebih berat dan lebih cepat menular atau biasa dikenal dengan istilah Super Flu.
“Gejalanya mirip flu biasa tapi lebih intens, mulai dari demam tinggi bisa sampai di atas tiga sembilan derajat, demamnya bisa tiga sampai lima hari, kemudian batuknya berat, nyeri kepala, kelelahan ekstrim, sampai sesak napas,” ujarnya lewat video di akun Instagram pribadinya, dikutip Senin (14/9/2026).
Menurutnya, Super Flu ini tidak lebih berbahaya daripada Covid Delta tapi lebih berbahaya daripada Covid Omicron. “Nih contohnya adalah anak-anak di bawah lima tahun atau anak-anak yang punya komorbid seperti asma. Yang terpenting Anda harus tahu jika anak Anda mengalami gejala-gejala batuk pilek dengan anaknya lemas banget, ada tanda-tanda sesak napas harus segera dibawa ke dokter ya,” kata dr. Ian.
Sementara itu, Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr Prima Yosephine menjelaskan bahwa laporan kematian pada pasien influenza umumnya berkaitan dengan kondisi komorbid yang memperberat penyakit dasar. Pada kondisi risiko tinggi seperti ini, infeksi dari virus maupun bakteri, dapat menjadi pencetus yang memperburuk komorbid yang sudah tidak stabil.
“Influenza tidak selalu menjadi penyebab kematian utama, tetapi dapat menjadi pencetus yang memperburuk kondisi kesehatan yang sudah tidak stabil, terutama pada pasien lansia dengan komorbid,” katanya.
Untuk itu, masyarakat diimbau tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat sakit termasuk kelompok rentan (memiliki komorbid atau lansia), serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala berat.
“Vaksinasi influenza tahunan, khususnya bagi kelompok berisiko, juga dianjurkan sebagai langkah pencegahan,” tuturnya.










