Ngeri! Abu Vulkanik Tak Terlihat dan Tak Berbau tapi Bisa Bikin Iritasi Mata Hingga Penyakit Paru
JAKARTA — Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak selalu dapat dilihat atau dicium, tetapi paparan partikel dan gas yang terkandung di dalamnya dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Dampaknya dapat dirasakan mulai dari iritasi mata dan saluran pernapasan hingga meningkatkan risiko penyakit paru jika paparan berlangsung dalam jangka panjang.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, dalam unggahan di akun Instagram-nya, mengingatkan bahwa ancaman bencana letusan gunung berapi tidak hanya berasal dari lava atau awan panas.
Abu vulkanik yang membumbung tinggi dan terbawa angin kerap dianggap sebagai debu biasa. Padahal, material tersebut dapat mengandung partikel dan gas yang berbahaya bagi kesehatan. Masyarakat pun diimbau tidak meremehkan paparan abu vulkanik selama erupsi berlangsung.
“Perhatian! Partikel dan gas yang berbahaya bagi kesehatan dari abu vulkanik ini banyak yang tidak terlihat dan tidak berbau,” kata dr. Adam.
Kandungan Abu Vulkanik
Menurutnya, abu vulkanik dapat mengandung berbagai gas dan senyawa kimia, mulai dari karbon dioksida (CO₂), sulfur dioksida (SO₂), hidrogen klorida (HCl), hidrogen sulfida (H₂S), radon (Rn), hidrogen fluorida (HF), hingga asam sulfat (H₂SO₄).
Karena sebagian partikel dan gas tersebut tidak memiliki aroma khas maupun wujud yang mudah dikenali, keberadaannya dapat diabaikan hingga menimbulkan gangguan kesehatan. Paparan abu vulkanik dapat memengaruhi sejumlah organ tubuh, mulai dari gejala ringan hingga gangguan yang lebih serius.
Di antaranya sebagai berikut:
- Mata: Mengalami iritasi, kemerahan, dan terus berair.
- Hidung dan saluran pernapasan: Memicu bersin, iritasi saluran napas, hingga penumpukan lendir berlebih.
- Kepala: Menimbulkan sensasi pusing, keliyengan, hingga nyeri kepala.
- Saluran pencernaan: Dapat menyebabkan mual, muntah, dan nyeri perut.
- Paru-paru: Dapat menyebabkan laju pernapasan meningkat hingga memicu keluhan sesak napas.
Tak berhenti pada dampak jangka pendek, paparan partikel halus abu vulkanik dalam jangka panjang juga berisiko memicu penyakit kronis yang serius.
“Penyakit jangka panjang yang bisa muncul akibat menghirup abu vulkanik: bronkitis, silicosis (akibat penumpukan silika di paru), peningkatan risiko terjadinya infeksi paru seperti pneumonia, [hingga] kanker paru,” jelas dr. Adam.
Ia menambahkan, kelompok rentan seperti penderita asma atau penyakit paru lainnya, bayi dan anak-anak, serta penderita penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kesehatan saat terpapar abu vulkanik.
Untuk meminimalkan potensi bahaya paparan partikel halus tersebut, dr. Adam membagikan beberapa panduan pencegahan yang dapat diterapkan masyarakat di wilayah terdampak:
- Gunakan masker yang tepat: Selalu kenakan masker, terutama jenis N95 bila memungkinkan, saat berada di luar rumah untuk membantu menyaring partikel halus.
- Amankan ruangan dalam: Tutup rapat seluruh pintu dan jendela tempat tinggal untuk mencegah abu masuk ke dalam rumah.
- Lindungi kulit: Kenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang guna mengurangi kontak langsung yang dapat memicu iritasi kulit.
- Lindungi mata: Gunakan kacamata pelindung (goggle) untuk mengurangi risiko iritasi pada mata.






