Tolak Hoaks dan Provokasi KKB soal Demonstrasi, Jaga Papua Tetap Kondusif!
PAPUA- Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua menyebarkan informasi palsu atau hoaks dan propaganda untuk menarik perhatian publik. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi sepihak yang sengaja dibangun oleh kelompok tersebut.
Masyarakat adat di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menegaskan penolakan terhadap segala bentuk provokasi yang dapat mendorong demonstrasi berkembang menjadi tindakan anarkis dan mengganggu keamanan masyarakat.
“Keberagaman suku, budaya, dan agama merupakan kekuatan utama masyarakat Nabire untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian,” ujar Korwil Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Tengah Yona Kogoya, Selasa (25/8/2026).
Oleh karena itu, masyarakat perlu semakin bijak dalam menyikapi berbagai informasi, khususnya narasi yang belum jelas kebenarannya dan berpotensi mengajak masyarakat melakukan tindakan yang merugikan ketenteraman umum.
Masyarakat adat memiliki peran penting untuk memberikan pemahaman agar penyampaian aspirasi tidak disusupi kepentingan yang mengarah pada kekerasan dan konflik.
Dia juga menekankan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban sebagai fondasi kehidupan bersama.
“Aspirasi masyarakat tetap dapat disampaikan melalui cara-cara damai, sedangkan ajakan untuk melakukan kekerasan, perusakan, atau tindakan yang memecah persatuan harus ditolak secara tegas,”pungkasnya.
Bupati Nabire, melalui Asisten I Setda Nabire La Halim mengapresiasi peran LMA sebagai mitra strategis dalam menjaga ketertiban sosial dan memperkuat persatuan.
Menurutnya, setiap perbedaan pandangan harus dikelola secara dewasa tanpa membuka ruang bagi provokasi yang dapat memperuncing situasi. “Perbedaan harus menjadi perekat persaudaraan, bukan sumber perpecahan,” pungkas La Halim.
Komitmen masyarakat adat Nabire tersebut menjadi pesan kuat bahwa menjaga Papua tetap kondusif membutuhkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk provokasi.
Penolakan terhadap demonstrasi anarkis dan hasutan yang memecah belah diharapkan dapat memperkuat budaya damai, sehingga keamanan, persaudaraan, dan pembangunan di Papua Tengah terus berjalan dalam suasana yang harmonis.










