5 Fakta Sulitnya Restrukturisasi BUMN Karya, Punya Utang Ratusan Triliun Rupiah hingga Anak Cucu Bermasalah
JAKARTA - Proses restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya menemui banyak hambatan. Mulai dari utang ratusan triliunan Rupiah hingga anak-cucu perusahaan yang bermasalah.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN Dony Oskaria buka-bukaan soal rumitnya restrukturisasi BUMN Karya.
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta restrukturisasi BUMN Karya, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
1. Utang Ratusan Triliun Rupiah
Dony menyatakan, program penyehatan korporasi di sejumlah BUMN Karya tergolong cukup pelik. Hal tersebut dipicu oleh tingginya tumpukan utang yang disebut mencapai ratusan triliun Rupiah serta kompleksitas persoalan bisnis yang membelit masing-masing perseroan.
“Utangnya besar-besar, masalahnya ini tidak hanya di level holding, tetapi dia punya anak-anak perusahaan juga bermasalah,” ungkap Dony di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
2. Anak-Cucu Perusahaan Bermasalah
Kondisi ini kian rumit karena beban utang dan benang kusut bisnis tersebut telah merembet ke lini anak hingga cucu usaha perusahaan.
"Bisa bayangkan masing-masing punya anak perusahaan lebih dari 20. Jadi dengan begini sebetulnya bisa membayangkan seperti apa kita bekerja menyelesaikan satu per satu," kata Dony.
"Di masing-masing karya itu punya anak lagi kan. Ada cucu. Semuanya bermasalah juga. Jadi kita mesti bereskan itu one by one, satu per satu, satu per satu. Inilah yang memakan waktu," sambungnya.
3. Proses Restrukturisasi Cukup Rumit
Menurut Dony, Danantara bisa saja mengambil langkah cepat untuk menyelesaikan permasalah BUMN Karya. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan merger maupun mempailitkan perusahaan.
"Tapi kami memikirkan juga dampaknya. Dampaknya apa untuk ekosistem yang lainnya. Jadi memang hati-hati sekali. Inilah yang memakan waktu yang juga masyarakat harus tahu bahwa problem ini kan sudah cukup lama dan besar," katanya.
"Inilah yang satu per satu. Karena dampaknya itu kan ratusan triliun utangnya mereka. Ini yang total di antara perusahaan-perusahaan karya itu. Inilah yang pelan-pelan mesti dibereskan," ujarnya.
4. Danantara Targetkan Restrukturisasi Rampung Akhir 2026
Meski demikian, Danantara menargetkan penyelesaian proses restrukturisasi BUMN Karya sebelum penutupan tahun 2026.
Dony Oskaria menargetkan langkah penataan korporasi tersebut mampu memulihkan aspek keuangan serta memperbaiki fundamental bisnis perusahaan BUMN karya di masa mendatang.
“Saya tetap mengupayakan akhir tahun ini sudah selesai, tetapi dinamika di dalam menyelesaikan ini kan cukup rumit,” ujar Dony.
5. Skema Restrukturisasi BUMN
Melalui jalannya restrukturisasi ini, fokus bisnis BUMN karya nantinya akan dikerucutkan ke dalam tiga pilar utama, yang meliputi lini infrastruktur, jasa konstruksi gedung, serta sektor rekayasa, pengadaan, dan konstruksi atau EPC (engineering, procurement, and construction).
Secara menyeluruh, perombakan struktural ini merupakan bagian dari peta jalan pemerintah dalam merampingkan atau merger postur perusahaan milik negara.
Adapun opsi skema yang ditempuh dalam penataan BUMN karya ini mencakup likuidasi bagi entitas yang sudah tidak aktif beroperasi, aksi divestasi untuk melepas lini bisnis tertentu, konsolidasi atau merger antarperusahaan sejenis, serta langkah restrukturisasi mendalam guna menyehatkan neraca keuangan dan efisiensi operasional.
Dalam cetak biru yang disiapkan, Danantara merancang skema konsolidasi dengan menggabungkan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) ke dalam naungan PT Hutama Karya (Persero).
PT PP (Persero) Tbk atau PTPP diarahkan untuk berfokus menggarap dua pilar usaha utama, yaitu rekayasa sipil serta EPC, yang memosisikan perseroan memegang kendali penuh dari hulu ke hilir atas keseluruhan tahapan proyek konstruksi.
Tak hanya itu, ada PT Nindya Karya (Persero) dan PT Brantas Abipraya (Persero) akan dilebur ke dalam struktur PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), sementara PTPP tetap dipertahankan beroperasi sebagai entitas mandiri yang berdiri sendiri.
Adapun, entitas hasil penggabungan di bawah Hutama Karya dan Adhi Karya bakal memusatkan keahlian mereka pada jasa teknik sipil, mulai dari perencanaan, pembangunan fisik, hingga perawatan berbagai proyek infrastruktur serta sarana publik seperti gedung, jalan raya, jembatan, bendungan, hingga sistem jaringan utilitas lainnya.








