Kisah Bayi Prematur yang Selamat di Tengah Gempa NTT

Kisah Bayi Prematur yang Selamat di Tengah Gempa NTT

Terkini | okezone | Jum'at, 21 Agustus 2026 - 12:10
share

JAKARTA — Seorang bayi prematur dengan berat 1.500 gram berhasil diselamatkan melalui operasi sesar darurat di tengah situasi darurat akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Proses persalinan dilakukan dengan keterbatasan fasilitas setelah akses menuju rumah sakit rujukan terputus akibat kerusakan jalan dan jembatan.

Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran penanganan medis yang dilakukan tenaga kesehatan di tengah kondisi pascagempa NTT pada 15 Agustus 2026. Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin pun meninjau langsung pelayanan kesehatan di Kabupaten Nagekeo pada Selasa (18/8) untuk memastikan penanganan korban tetap berjalan meski sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.

Berdasarkan Laporan Situasi (Situation Report) Kementerian Kesehatan, gempa tersebut mengakibatkan 70 orang meninggal dunia dan 43.391 warga mengungsi di seluruh wilayah NTT. Khusus di Kabupaten Nagekeo, sebanyak 170.669 jiwa terdampak, dengan rincian delapan orang meninggal dunia, 13 orang mengalami luka berat, dan 29 orang luka ringan.

Bencana tersebut juga mengganggu operasional dua rumah sakit utama, yakni RS Pratama Rajad dan RS Aeramo, serta merusak bangunan tiga puskesmas.

Menghadapi kondisi darurat fasilitas kesehatan, Menkes menetapkan tiga prioritas utama. Prioritas pertama adalah mempercepat identifikasi dan pelayanan medis melalui sistem triase dalam tiga hingga lima hari ke depan.

Pasien dalam kondisi kritis akan dirujuk langsung ke rumah sakit, sedangkan pasien dengan luka ringan ditangani di puskesmas atau tenda darurat.

“Tugas prioritas Kementerian Kesehatan saat tanggap darurat nomor satu adalah pasiennya, bukan fasilitas pelayanannya. Pasiennya nomor satu, sesudah itu baru nomor dua kita perbaiki fasilitas yang rusak,” tegas Menkes Budi di Nagekeo.

Prioritas kedua adalah rehabilitasi infrastruktur fasilitas kesehatan yang rusak. Kemenkes menargetkan pembangunan maupun renovasi fasilitas tersebut dapat rampung dalam delapan hingga 12 bulan ke depan.

Sementara itu, prioritas ketiga adalah penanganan trauma psikologis atau trauma healing. Tingginya kekhawatiran warga terhadap kemungkinan gempa susulan mendorong Kemenkes menggandeng organisasi profesi untuk mendatangkan konselor ke NTT.

Dalam jangka menengah, Kemenkes juga berencana menempatkan psikolog klinis di 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia secara bertahap.

Operasi Sesar di Tengah Keterbatasan

Keterbatasan fasilitas akibat gempa tidak menghentikan upaya tenaga kesehatan dalam menangani pasien dengan kondisi darurat. Saat meninjau ruang operasi lapangan, Menkes Budi berdialog dengan dr. Restu, salah satu dokter bedah yang melakukan operasi sesar darurat (SC cito) sesaat setelah gempa terjadi.

Terputusnya akses jalan dan jembatan menuju fasilitas rujukan membuat dr. Restu dan tim harus mengambil keputusan dengan cepat. Demi menyelamatkan ibu dan bayi, operasi dilakukan di dekat pintu masuk gedung yang masih dapat digunakan dengan peralatan medis terbatas.

“Waktu itu saya pertimbangkan rencana SC cito, tapi jalur rujukan terputus. Jembatan rusak, jalan rusak,” ungkap dr. Restu.

Keputusan tersebut berakhir dengan kelahiran seorang bayi prematur dengan berat 1.500 gram. Bayi tersebut berhasil lahir dengan selamat dan kini menjalani perawatan intensif di ruang perinatologi.

Untuk mengantisipasi kondisi serupa, Menkes memastikan ketersediaan sejumlah alat medis esensial di rumah sakit lapangan Nagekeo. Mesin anestesi dan alat kauter untuk membantu menghentikan pendarahan telah disiagakan agar tenaga medis dapat menangani kasus kegawatdaruratan dengan lebih optimal di lokasi bencana.

Topik Menarik