Mitos atau Fakta: Posisi Tidur Pengaruhi Postur Tubuh?
KEBIASAAN tidur yang sering dianggap sepele ternyata menyimpan dampak jangka panjang bagi kesehatan fisik. Bahkan, ada anggapan posisi tidur bisa pengaruhi postur tubuh.
Namun, apakah anggapan tersebut benar fakta atau hanya mitos semata? Menarik mengulasnya mendalam agar mengetahui posisi tidur yang tepat.
1. Posisi Tidur Pengaruhi Postur Tubuh
Tanpa disadari, posisi tidur yang keliru selama bertahun-tahun tidak hanya mengganggu kualitas istirahat. Posisi tidur juga berpotensi mengubah postur tubuh hingga memicu masalah tulang belakang yang serius.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, dalam unggahan video di akun Instagramnya membenarkan adanya keterkaitan erat antara posisi tidur dengan kelurusan tulang belakang manusia. Menurutnya, dampak dari kebiasaan tidur yang salah biasanya tidak langsung terasa dalam semalam, melainkan terakumulasi seiring berjalannya waktu.
“Sebenarnya ini yang menjawab harusnya dokter spesialis ortopedi sub-spine. Tapi jawabannya itu adalah fakta. Jadi jawabannya adalah memang betul, posisi tidur selama bertahun-tahun itu akan mempengaruhi postur,” ujar dr. Tirta, dikutip Kamis (13/8/2026).
2. Kebiasaan Buruk saat Tidur
dr. Tirta mencontohkan salah satu kebiasaan buruk yang kerap ditemui di masyarakat, seperti penggunaan bantal yang terlalu keras dan tinggi. Kebiasaan ini dapat menarik posisi leher dan punggung secara tidak alami, yang pada akhirnya terbawa hingga ke aktivitas sehari-hari.
“Contoh orang yang biasanya tidurnya pakai bantal keras tinggi, jadi dia nanti kalau jalan gini nih (bungkuk). Paling nanti usia 40 nyeri servikal, 57, matinya ya paling lumpuh, stroke, jepit,” jelas dia.
3. Pentingnya Pemilihan Kasur
Berangkat dari risiko kesehatan tersebut, kelayakan tempat tidur dan jenis kasur pun memegang peranan vital. dr. Tirta mengungkapkan bahwa perbedaan harga kasur yang cukup drastis di pasaran sejatinya terletak pada teknologi penopang tulang belakang (spine support) yang ditawarkan.
“Itu alasan kenapa ada kasur harganya 160 juta dan ada kasur harganya cuma 160 ribu. Pembedanya adalah kasur-kasur yang harganya ratusan juta tersebut, itu memiliki spine support dan memory. Karena tubuh manusia itu berbeda-beda,” ungkap dr. Tirta.
Kebutuhan akan kasur yang tepat ini dinilai sangat individual, tergantung pada anatomi tubuh masing-masing orang. Ia mencontohkan kondisi fisiknya sendiri yang membutuhkan tumpuan khusus saat beristirahat agar tidak menimbulkan ketegangan otot.
“Contoh, saya genetiknya tuh gede di otot sini, rhomboid sama latissimus dorsi atau sayap. Sehingga ketika saya tidur miring, sakit ini bahunya. Sehingga saya membutuhkan kasur yang dia kalau tidur, ininya harus bahunya harus tenggelam. Kalau enggak, sini akan sakit, tension sampai sini,” lanjut dia.
Lebih lanjut, pertimbangan pemilihan alas tidur menjadi kian krusial bagi mereka yang memiliki riwayat kelainan atau gangguan medis pada tulang belakang. Penanganan tempat tidur yang tepat dapat membantu mencegah keparahan gejala saraf terjepit maupun pembengkokan tulang.
“Yang kedua, bagi orang yang memiliki riwayat penyakit skoliosis, itu juga tidurnya harus khusus. Bagi orang yang memiliki HNP atau saraf terjepit di bagian lumbal 4 atau 5, dia harus memiliki tempat tidur yang ada lumbar support-nya,” pungkas dr. Tirta.










