Sempat Dihapus karena Materi Pelecehan Anak, Telegram Muncul Lagi di App Store

Sempat Dihapus karena Materi Pelecehan Anak, Telegram Muncul Lagi di App Store

Teknologi | okezone | Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:15
share

JAKARTA - Apple mengatakan pihaknya sempat menghapus aplikasi pesan populer Telegram dari App Store karena adanya materi pelecehan seksual anak di platform tersebut.

Telegram, yang mengklaim memiliki lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan, telah lama menghadapi tuduhan di beberapa negara tentang moderasi konten yang longgar dan kegagalan untuk menindak aktivitas ilegal.

Pengguna mulai melaporkan masalah saat mengunduh aplikasi pada Selasa (4/8/2026) tak lama setelah pukul 01.00 GMT. Aplikasi tersebut kembali sekitar satu jam kemudian.

“Telegram telah dipulihkan di App Store dan akan segera tersedia kembali untuk semua pengguna,” kata perusahaan tersebut tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Akun resmi Telegram di X menulis: “Kabar tentang kematian saya sangat dibesar-besarkan.”

Beberapa jam kemudian, Apple mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada 9to5Mac bahwa Telegram dihapus setelah peninjauan menemukan konten yang melanggar “pedoman ketat perusahaan yang melarang materi pelecehan seksual anak.”

“Aplikasi tersebut kemudian dipulihkan setelah pengembang segera menghapus konten dan memblokir pengguna yang mempostingnya,” kata Apple.

Minggu lalu, regulator telekomunikasi Australia memulai proses perdata terhadap Telegram karena diduga gagal mendeteksi dan menghapus “materi pro-teror” dari platform tersebut, termasuk video eksekusi teroris dan penembakan massal.

 

Bulan lalu, Rusia memasukkan pendiri Telegram kelahiran Rusia, Pavel Durov, ke dalam daftar buronan atas tuduhan terorisme dan menetapkannya sebagai orang yang terlibat dalam terorisme dan ekstremisme. Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menuduh Durov gagal menonaktifkan chatbot kencan yang digunakan Ukraina untuk merekrut warga Rusia muda untuk melakukan pembakaran dan bentuk sabotase lainnya.

Durov, yang telah tinggal di luar Rusia sejak 2014, mengatakan dia dimasukkan ke dalam daftar teroris “karena menolak tuntutan pengawasan dan sensor massal di Telegram.”

Durov sempat ditahan di bandara di luar Paris pada tahun 2024 setelah pihak berwenang Prancis menuduhnya membiarkan kejahatan terorganisir berkembang di Telegram. Ia kemudian mengklaim bahwa dinas intelijen Prancis telah mencoba menekannya untuk memberlakukan sensor politik, termasuk penindakan terhadap suara-suara konservatif selama pemilihan presiden Rumania yang kontroversial pada tahun 2025. Prancis membantah klaimnya.

Aplikasi pesan tersebut sempat diblokir di Brasil pada Maret 2022 dan April 2023, setelah pihak berwenang menuduh platform tersebut gagal mengekang penyebaran informasi yang salah dan kelompok obrolan neo-Nazi. Tak hanya di Brasil, Telegram juga dilarang di Rusia, pertama kali pada 2018 dan kini pada Februari 2026 atas dugaan pelanggaran hukum.

Topik Menarik