Metode Backfill Tailing Jadi Kunci Tambang Bawah Tanah Modern

Metode Backfill Tailing Jadi Kunci Tambang Bawah Tanah Modern

Ekonomi | okezone | Senin, 27 Juli 2026 - 17:00
share

JAKARTA - Metode backfilling mining menjadi pilihan PT Dairi Prima Mineral (DPM) sebagai metode penambangan bawah tanah yang mengutamakan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan. 

Keunggulan utama cut and fill mining adalah minimnya pembukaan lahan di permukaan sehingga hutan dan ekosistem tetap terjaga. DPM menegaskan bahwa sistem backfill tailing tidak hanya berfungsi menjaga stabilitas area tambang, tetapi juga mendukung perlindungan lingkungan serta kepatuhan terhadap regulasi.

Melalui sistem tersebut, material backfill digunakan untuk mengisi ruang kosong (void) bekas penambangan guna memperkuat massa batuan, mengurangi risiko runtuhan, menjaga keselamatan pekerja, sekaligus melindungi kualitas air tanah melalui pemantauan berkala, pengujian QA/QC, evaluasi lingkungan, serta pelaporan yang terdokumentasi. Seluruh upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan pertambangan berjalan aman, memenuhi regulasi, dan mendukung keberlanjutan operasi tambang.

Pakar LAPI Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Iskandar mengatakan, konsep tambang bawah tanah modern memiliki keunggulan karena membutuhkan ruang yang jauh lebih kecil di permukaan dibandingkan tambang terbuka.

"Yang positif dari tambang bawah tanah, footprint kerusakan atau footprint gangguan di permukaan itu kecil. Di mana kita membutuhkan space di permukaan untuk tempat tinggal, pertanian, dan aktivitas lainnya, gangguannya menjadi jauh lebih kecil. Ini langkah positif yang bisa disebut sebagai tambang bawah tanah modern," ujar Irwan dalam diskusi bertemakan Tambang Bawah Tanah Modern “Perspektif Sains, Hukum, Teknologi dan Perlindungan Lingkungan” yang digelar E2S, Jakarta, Senin (27/7/2026).

Aspek lain yang membedakan praktik pertambangan modern adalah pengelolaan sisa hasil pengolahan (tailing). Jika sebelumnya tailing umumnya ditempatkan di tailing dump, kini DPM akan mengembalikannya ke dalam ruang bekas tambang (backfill).

"Yang modern dan taktis adalah sisa hasil pengolahannya akan ditempatkan kembali, bukan ke tailing dump. Tailing dump memiliki risiko karena setelah tambang selesai, material itu tetap berada di sana sepanjang waktu. Kita belajar dari berbagai mining disaster di dunia, termasuk yang terjadi di Brasil pada 2019," katanya.

Irwan menegaskan bahwa setiap kegiatan pertambangan pasti memiliki dampak terhadap lingkungan. Namun, menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana dampak tersebut dapat dikelola melalui penerapan teknologi dan pengawasan yang tepat.

"Tambang juga punya dampak. Harus dipahami dampaknya, tetapi dampak itu harus bisa kita kelola. Salah satu yang paling penting adalah persoalan air, baik air permukaan maupun air tanah," ujarnya.

 

Dia menjelaskan, pada tambang bawah tanah seperti DPM, perhatian utama bukan lagi pada keberadaan tailing dump atau bukaan tambang di permukaan, melainkan pada pengelolaan air tanah. Salah satu perubahan terbesar dalam dokumen lingkungan DPM, lanjut Irwan, adalah keputusan mengubah sistem  pembuangan tailing menjadi sistem backfill.
 
Menurutnya, langkah tersebut memberikan manfaat besar dalam mengurangi potensi terbentuknya air asam tambang.

"Perubahan yang signifikan adalah mengonversi sistem dari tailing dump menjadi backfill. Selain itu, DPM juga berhasil me-recover sekitar 32 persen sulfur. Kalau sulfur itu tidak diambil, sebenarnya menjadi potensi pembentukan air asam tambang," jelas Irwan.

Meski demikian masih terdapat sekitar tujuh persen kandungan sulfur yang tersisa. Untuk mencegah terjadinya oksidasi yang dapat memicu terbentuknya air asam tambang, material tersebut kemudian dicampur dengan semen dan kapur (lime) sebelum ditempatkan kembali ke dalam terowongan tambang.

Menurut Irwan tren industri pertambangan global juga mulai meninggalkan penggunaan tailing dump konvensional setelah sejumlah kegagalan bendungan tailing di berbagai negara. 

Banyak perusahaan kini beralih ke teknologi dry stack tailing maupun sistem backfill karena dinilai lebih aman dan memiliki jejak lahan yang lebih kecil. Memang ada biaya dan teknologi tambahan, tetapi footprint areanya jauh lebih kecil. Perubahan teknologi tersebut sebagai peralihan dari sistem lama menuju sistem yang lebih efisien.

DPM Garap Tambang Bawah Tanah Anjing Hitam

Sementara itu, PT Dairi Prima Mineral (DPM) memastikan proyek tambang bawah tanah timah hitam (Pb) dan seng (Zn) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, telah mengantongi persetujuan revisi studi kelayakan dan adendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada 2026. 

Perseroan kini bersiap mengembangkan deposit Anjing Hitam dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta ton bijih per tahun.

Technical Manager DPM Widianto menjelaskan perjalanan perizinan proyek tersebut telah berlangsung hampir tiga dekade sejak Kontrak Karya ditandatangani pada 1998 sampai 2002 ditemukan endapan timah hitam dan seng dengan kadar yang cukup signifikan. 
"Di mana prospek yang ditemukan tersebut dinamakan prospek anjing hitam," kata Widianto.

Dia menjelaskan, studi kelayakan pertama disusun pada 2004 dan AMDAL disahkan Bupati Dairi pada 2005. Selanjutnya perusahaan memperoleh Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) seluas 53,11 hektare pada 2012, sebelum dilakukan revisi studi kelayakan pada 2015 akibat perubahan lokasi portal, Tailing Storage Facility (TSF), dan gudang bahan peledak.

Menurut Widianto, pada 2022 pemerintah menyetujui adendum AMDAL yang mengakomodasi tiga perubahan tersebut. Namun, pada 2024 Mahkamah Agung memenangkan gugatan kelompok masyarakat terhadap persetujuan adendum AMDAL, sehingga Menteri Lingkungan Hidup menjalankan putusan MA dengan mencabut persetujuan tersebut pada 2025. IPPKH seluas 53,11 hektare, Kontrak Karya juga tetap berlaku hingga 29 Desember 2047.

Sementara itu, berdasarkan kajian terbaru yang menjadi dasar revisi studi kelayakan, DPM memiliki dua prospek utama yakni Anjing Hitam dan Lae Jehe.

"Untuk sumber daya Prospek Anjing Hitam kami mendapatkan tonase 8,5 juta ton dengan kadar seng 13,8 persen dan kadar timah hitam 7,9 persen. Sedangkan Prospek Lae Jehe memiliki sumber daya 27,9 juta ton dengan kadar seng sekitar 6 persen dan timah hitam 3,7 persen," jelas Widianto.

Dari hasil konversi sumber daya menjadi cadangan, Prospek Anjing Hitam memiliki cadangan 7,7 juta ton dengan kadar seng 12,5 persen dan timah hitam 7,3 persen. Sementara Prospek Lae Jehe memiliki cadangan sekitar 10 juta ton dengan kadar seng 6,4 persen dan timah hitam 3,8 persen.

"Untuk tahap awal kami akan mengembangkan Prospek Anjing Hitam terlebih dahulu, sedangkan Lae Jehe masih akan dilakukan pengeboran lanjutan untuk memperoleh data kadar mineral yang lebih detail," ujarnya.

 

Terapkan Tambang Bawah Tanah dan Sistem Backfill

Widianto menegaskan DPM akan menerapkan metode penambangan bawah tanah menggunakan kombinasi longhole stoping dan cut and fill, sehingga bekas ruang tambang akan diisi kembali menggunakan material tailing yang telah diolah.

"Material tailing tidak dibuang atau ditempatkan dipermukaan, tetapi dipisahkan terlebih dahulu antara cairan dan padatan. Cairannya digunakan kembali dalam proses pengolahan, sedangkan padatannya dicampur semen lalu dipompa kembali ke dalam lubang tambang sebagai backfill material," jelasnya.

Dia  menambahkan pemanfaatan tailing sebagai material pengisi kembali tidak dilakukan sembarangan karena harus memperoleh persetujuan teknis dari pemerintah.

"Izin untuk pemanfaatan limbah tersebut sebagai backfill sudah kami peroleh dari Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari adendum AMDAL yang telah disetujui," katanya.

Selain menghasilkan konsentrat timah hitam dan seng, DPM juga akan memanfaatkan proses pemisahan sulfur sehingga menghasilkan konsentrat sulfur. Adapun sisa akhir proses pengolahan akan dimanfaatkan seluruhnya sebagai material backfill sehingga perusahaan tidak lagi menggunakan Tailing Storage Facility (TSF) atau bendungan tailing.

Pada tahap produksi, DPM merencanakan pabrik pengolahan dengan kapasitas 1 juta ton bijih kering per tahun dari deposit Anjing Hitam. Hasil akhirnya berupa konsentrat seng, konsentrat timah hitam dan konsentrat sulfur yang akan dijual ke perusahaan pemurnian atau smelter.

Berdasarkan rencana produksi perusahaan, selama masa operasi total konsentrat kering yang dihasilkan diperkirakan mencapai 2,43 juta ton, dengan kandungan logam sekitar 473.895 ton timah hitam dan 821.150 ton seng.

Topik Menarik