Dokter: Gula Penting untuk Pertumbuhan Anak tapi Harus Dibatasi
JAKARTA - Gula memang dibutuhkan sebagai sumber energi bagi anak yang sedang tumbuh. Namun, konsumsi gula tambahan tetap harus dibatasi karena asupan berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas hingga memicu berbagai penyakit kronis sejak usia dini.
Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, mengingatkan bahwa obesitas pada anak kini menjadi masalah kesehatan yang semakin mendapat perhatian. Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pola hidup sedentari, tingginya konsumsi makanan cepat saji, hingga minuman berpemanis.
Dalam unggahan video bersama Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono di akun Instagram Wamenkes, dr. Reza menekankan pentingnya edukasi gizi kepada orang tua agar mampu mengontrol asupan gula harian anak.
Menurutnya, meski gula berperan sebagai salah satu sumber energi, jumlah konsumsinya harus disesuaikan agar tidak berdampak buruk terhadap kesehatan.
"Nah, jadi memang gula itu penting ya untuk pertumbuhan anak. Tapi tentunya jumlah konsumsinya harus dibatasi. Kenapa? Karena kalau kita lihat sekarang, tren banyak anak-anak kita yang sudah mulai menjadi obesitas,” kata dr. Reza.
Obesitas Anak
Ia menjelaskan, obesitas pada anak dapat meningkatkan risiko resistensi insulin yang berujung pada diabetes melitus. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat memicu hipertensi dan meningkatkan beban kerja ginjal hingga berpotensi menyebabkan penyakit ginjal kronis.
"Kalau obesitas juga bisa meningkatkan risiko resistensi insulin, bahkan mencetuskan diabetes melitus pada anak. Selain itu, dampak jangka panjangnya juga bisa ke masalah ginjal. Jika konsumsi gula berlebihan menyebabkan obesitas dan hipertensi, komplikasinya dapat membebani fungsi ginjal hingga memicu penyakit ginjal kronis pada anak," jelasnya.
dr. Reza menambahkan, batas konsumsi gula tambahan berbeda pada setiap kelompok usia. Untuk anak di bawah usia dua tahun, gula tambahan tidak dianjurkan sama sekali.
"Pada anak, tentu tergantung kelompok usianya. Di bawah usia dua tahun tidak direkomendasikan diberikan gula tambahan. Sementara usia dua hingga enam tahun maksimal hanya empat sendok teh per hari atau sekitar 19 gram," ujar dr. Reza.
Di tengah banyaknya produk makanan dan minuman tinggi gula yang mudah dijumpai, ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.
"Pertama dimulai dari keluarga. Jangan sampai anak terlalu sering mengonsumsi makanan ataupun minuman yang tinggi gula," pungkasnya.










