Bukan Soal Tinta, Ini Alasan Medis Tato Bisa Permanen

Bukan Soal Tinta, Ini Alasan Medis Tato Bisa Permanen

Gaya Hidup | okezone | Minggu, 26 Juli 2026 - 07:01
share

JAKARTA - Seni merajah tubuh atau tato kini semakin populer dan lazim dijumpai dalam gaya hidup modern. Meski kerap dianggap sebagai bentuk ekspresi diri dan karya seni personal, keberadaan tato di tengah masyarakat masih sering memicu perdebatan.

Bukan hanya terkait dengan sudut pandang nilai sosial maupun ajaran agama, sifatnya yang permanen kerap membuat banyak orang berpikir puluhan kali sebelum memutuskan melukis kulit mereka. 

Selama ini, anggapan umum yang beredar menyebutkan bahwa sifat permanen tato disebabkan oleh cairan tinta khusus yang meresap kuat dan mengendap abadi di dalam lapisan kulit sehingga sangat sulit untuk dihilangkan.

Namun, pandangan medis ternyata mengungkapkan fakta berbeda. Permanennya tato di tubuh manusia rupanya bukan sekadar karena sifat kimiawi tintanya yang menempel statis.

Dokter sekaligus influencer kesehatan Adam Prabata dalam utas di akun Threads miliknya membeberkan fenomena medis di balik tinta tato yang bisa bertahan hingga puluhan tahun di tubuh manusia. Penjelasan tersebut berdasarkan pada penelitian ilmiah Danish Study of Twins berjudul “Tattoo Ink Exposure is Associated with Lymphoma and Skin Cancers”.

"Tato bisa dibilang 'permanen' bukan karena tintanya melekat selamanya di kulit, melainkan karena ada siklus peradangan kronis yang terus berulang, melibatkan sel-sel imun di bawah kulit," tulis dr. Adam, dikutip Sabtu (25/7/2026).

Dokter yang aktif mengulas riset kesehatan ilmiah ini menerangkan, saat jarum tato menusuk dan melukai lapisan kulit, tubuh secara otomatis membaca proses tersebut sebagai cedera sekaligus masuknya benda asing. Kondisi ini merangsang respons sistem kekebalan tubuh.

"Sel-sel imun seperti neutrofil, makrofag, dan sel dendritik pun langsung bergerak untuk 'menangkap' partikel pigmen tato yang masuk," imbuhnya.

Kunci utama mengapa tinta tato bertahan lama terletak pada sel imun yang dinamakan makrofag. Sel ini bekerja dengan pola yang berulang, yakni capture, release, recapture (menangkap, melepaskan, dan menangkap kembali). 

Ketika pigmen tinta masuk, makrofag akan menelannya karena menganggapnya sebagai benda asing. Namun, partikel pigmen tersebut terlalu besar dan sulit untuk dicerna secara alami oleh sel imun.

"Masalahnya, partikel pigmen itu terlalu besar dan terlalu awet untuk benar-benar dicerna. Jadi ketika makrofag yang menelannya akhirnya mati, pigmen tadi terlepas lagi ke jaringan sekitar," ungkap dr. Adam.

Siklus ini tidak berhenti di situ. Saat pigmen terlepas dari sel yang mati, generasi makrofag baru akan datang dan kembali menelan pigmen yang sama. Proses ini terus berulang secara terus-menerus di bawah lapisan kulit.

"Jadi intinya, tato 'permanen' itu sebenarnya hasil dari relay makrofag yang terus-menerus menangkap ulang pigmen yang dilepas oleh makrofag sebelumnya, bukan karena tinta menempel statis di kulit," katanya.

Di balik keunikan mekanisme biologis tersebut, dr. Adam juga mengingatkan adanya potensi risiko kesehatan dari penumpukan pigmen jangka panjang. Akumulasi pigmen di dalam jaringan tubuh berpotensi mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh.

"Yang menarik, beberapa riset terbaru menemukan bahwa penumpukan pigmen jangka panjang ini berpotensi mengganggu fungsi imun normal, termasuk respons terhadap vaksin tertentu, dan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma (kanker kelenjar getah bening) serta kanker kulit," pungkas dr. Adam.

Topik Menarik