Kisah Pebulu Tangkis Susy Susanti, Ratu Tunggal Putri Dunia yang Kesulitan Bersinar di Asian Games

Kisah Pebulu Tangkis Susy Susanti, Ratu Tunggal Putri Dunia yang Kesulitan Bersinar di Asian Games

Olahraga | okezone | Selasa, 7 Juli 2026 - 09:54
share

NAMA Susy Susanti telah lama terukir sebagai salah satu legenda tunggal putri terhebat yang pernah dilahirkan Indonesia. Puncak prestasinya yang paling abadi adalah ketika pebulutangkis Tanah Air itu sukses menyumbangkan medali emas Olimpiade pertama untuk Indonesia pada edisi Barcelona 1992.

Di balik deretan piala yang memenuhi lemari penghargaannya, terselip sebuah catatan unik yang menarik untuk disimak. Sang Ratu Bulu Tangkis Dunia ternyata tidak pernah sekalipun berdiri di podium tertinggi dalam ajang olahraga terbesar di benua kuning, Asian Games.

Bakat besar perempuan kelahiran Tasikmalaya, 11 Februari 1971, ini awalnya diasah di PB Tunas Tasikmalaya sebelum ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk memperkuat PB Jaya Raya. Di bawah asuhan pelatih bertangan dingin, Liang Chiu Sia, Susy menjelma menjadi pemain tangguh dengan ciri khas permainan reli panjang yang menguras stamina serta smes yang menghujam tajam.

1. Kejayaan di Panggung Dunia

Tahun 1992 menjadi momen yang paling emosional dalam karier Susy ketika tampil di Olimpiade Barcelona. Setelah mendepak Huang Hua dari China, ia terlibat duel sengit tiga gim di partai puncak melawan rivalnya asal Korea Selatan, Bang Soo-hyun, dan menang dengan skor akhir 5-11, 11-5, dan 11-3.

Susy Susanti

Momen haru tersebut terasa kian sempurna karena kekasih yang kini menjadi suaminya, Alan Budikusuma, juga berhasil mengamankan medali emas di sektor tunggal putra. Setelah itu, dominasi Susy di sirkuit internasional semakin tidak terbendung.

Istri dari Alan Budikusuma ini tercatat sukses mengoleksi lima gelar Indonesia Open, lima trofi World Grand Prix Finals, serta empat kali naik podium juara di turnamen bergengsi All England. Sebagai pemimpin di lapangan, ia juga sukses memimpin tim beregu putri Indonesia meruntuhkan keperkasaan China untuk merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996, hingga akhirnya namanya diabadikan dalam Hall of Fame BWF pada 2004.

 

2. Emas Asia yang Luput

Meskipun merajai berbagai turnamen mayor di dunia, Asian Games seakan menjadi teka-teki yang gagal dipecahkan oleh Susy hingga ia gantung raket. Prestasi terbaiknya di pesta olahraga Asia ini hanyalah dua medali perak yang diraih dari nomor beregu putri pada edisi 1990 dan 1994.

Susy Susanti

Sementara untuk nomor perorangan, langkah Susy selalu terjegal sebelum menyentuh babak final dan harus puas dengan raihan medali perunggu. Pada Asian Games 1990 di Beijing, impiannya dikandaskan oleh tunggal putri tuan rumah, Tang Jiuhong, melalui drama pertarungan tiga gim yang melelahkan.

Asa untuk melengkapi koleksi gelarnya kembali menemui jalan buntu pada gelaran Asian Games 1994 di Hiroshima setelah ia kalah dua gim langsung 4-11 dan 5-11 dari Bang Soo-hyun. Walau emas Asian Games gagal digenggamnya, fakta tersebut sama sekali tidak mengurangi keagungan nama Susy Susanti sebagai ikon kejayaan bulu tangkis Indonesia di mata dunia.

Topik Menarik