Cucu Pendiri NU Sebut Semangat Nahdliyin Sulsel Warisi Kesultanan Bugis
JAKARTA - Kandidat calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Abdussalam Shohib alias Gus Salam bersilaturahmi dengan para dato’, tomakaka, dan gurutta yang menggerakkan Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan.
“Saya datang untuk silaturahmi, karena para kiai sepuh di Jawa meminta agar saya sering silaturahmi ke semua elemen NU, terutama para sesepuh NU di daerah-daerah,” ujar Gus Salam di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (6/6/2026).
Cucu pendiri NU ini menyampaikan hormat dan ta’dhimnya kepada Rais Syuriyah, Kiai Baharuddin, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Sulawesi Selatan Kiai Hamzah Harun Al-Rasyid. Keduanya berkenan bertemu dan memfasilitasi silaturahim dengan PCNU se-Sulawesi Selatan.
“Saya sowan silaturahmi ke Rais dan Ketua PWNU Sulsel. Beliau berdua adalah ulama panutan di tanah Bugis, sekaligus akademisi hebat yang menjadi referensi generasi muda NU,”ujarnya.
Gus Salam mengatakan, Ketua PWNU Sulsel, Kiai Hamzah Harun Al-Rasyid mememinta agar proses menuju Muktamar ke-35 NU dijalankan dengan keterbukaan dan menjaga persaudaraan.
“Beliau juga meminta kepada para kandidat calon ketua umum beserta para pendukungnya agar fokus pada agenda kebaikan yang diperjuangkan dan tidak perlu saling menjelekkan atau merendahkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Salam menyampaikan pujiannya kepada pengurus dan penggerak NU Sulawesi Selatan.
“Semangat keagamaan mewarisi dan bersanad pada pendahulu kesultanan-kesultanan Bugis. Berkarakter dengan etos tinggi untuk menjaga harmoni sosial,” ungkapnya.
“Apalagi, pimpinan dan pengurus NU Sulsel, dominan akademisi dengan keahlian dan spesifikasi yang bisa membawa jam’iyyah pada manfaat nyata bagi umat dan masyarakat,” lanjutnya.
Dia juga mengungkapkan pandangannya, bahwa potensi agraris dan maritim Sulawesi Selatan perlu dikelola untuk kesejahteraan masyarakat berbasis pesantren atau jam’iyyah di tingkat MWC dan Ranting.
Jaringan 24 PCNU se-Sulsel menjadi modal mengkonsolidasi keberdayaan umat, dan PBNU berperan sebagai konduktor yang mengorkestrasi berbagai inisiatif dan gerakan khidmah.
“PBNU bisa berperan untuk membuka jejaring ekonomi nasional, memfasilitasi lembaga keuangan syariah berbasis nahdliyyin dan off-taker; pengatur sirkulasi produksi ke jaringan pasar,” pungkasnya.
Sementara itu, Rais Syuriyah PWNU Sulsel, Kiai Baharuddin, mengingatkan pengurus tentang dinamika NU jelang Muktamar. Menurutnya, hal itu dikarenakan banyak kandidat yang maju sebagai ketua umum. Namun, ia berharap semua berjalan dan berakhir sejuk.
“Yang terpenting bagi kandidat ketua umum PBNU; ia mualim, berpengetahuan luas, zuhud; tidak ambisi duniawi, dan muharriq; muda, mau bergerak dan menjadi penggerak, serta ikhlas; berniat baik dan suci untuk khidmat,” tandasnya.










