Mitos atau Fakta: Daging Kambing Muda Lebih Aman dan Rendah Kolesterol ketimbang Kambing Tua?
SAAT momen makan sate atau olahan kambing lainnya, tak sedikit orang yang lebih memilih daging kambing muda atau yang dikenal dengan istilah balibu (bawah lima bulan). Alasannya, kambing muda dianggap lebih sehat dan rendah kolesterol dibandingkan kambing tua.
Namun, benarkah anggapan tersebut? Ataukah anggapan tersebut hanya mitos semata yang berkembang di masyarakat?
1. Kambing Muda Lebih Aman?
Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Premier Jatinegara, dr. Dwi Rendra Hadi, Sp.PD, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone, pun memberikan penjelasannya. Menurutnya, persepsi bahwa daging kambing muda sama sekali tidak mengandung kolesterol jahat atau jauh lebih aman dibandingkan kambing tua merupakan sebuah mitos.
Secara umum, perbedaan usia kambing memang dapat memengaruhi tekstur dan cita rasa daging. Daging kambing muda biasanya lebih empuk dan memiliki aroma yang tidak terlalu kuat dibandingkan kambing yang lebih tua.
Namun dari sisi kandungan kolesterol, perbedaannya tidak signifikan. Menurut dr. Rendra, kandungan kolesterol kedua kambing ini relatif sama.
“Sebenarnya harusnya sama (kambing muda dan kambing tua), relatif sama,” ujar dr. Rendra dalam acara Morning Zone.
2. Porsi Makanan Jadi Penting
dr. Rendra menegaskan bahwa faktor yang lebih berpengaruh terhadap kesehatan bukan hanya jenis daging yang dikonsumsi. Hal terpenting diperhatikan adalah jumlah atau porsi makan yang dikonsumsi seseorang.
“Lagi-lagi porsi sama takarannya yang bermain ya. Jadi kalau balibul makannya 10, kambing senior cuma 3, ya lebih bagus makan kambing senior karena cuma 3 tusuk,” jelas dr. Rendra.
Konsumsi makanan berlebihan, meskipun berasal dari daging kambing muda, memang tetap dapat meningkatkan asupan lemak dan kolesterol dalam tubuh. Sebaliknya, mengonsumsi daging dalam jumlah wajar akan lebih baik dibandingkan makan berlebihan hanya karena menganggap jenis tertentu lebih sehat.
Selain memperhatikan porsi, cara pengolahan juga menjadi faktor penting. Penggunaan santan berlebihan, jeroan, atau tambahan lemak saat memasak dapat meningkatkan kandungan lemak jenuh dalam makanan yang dikonsumsi.










