7 Fakta Rupiah Makin Terpuruk, Melemah Dekati Rp17.900 per Dolar AS
JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS makin terpuruk. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), Rupiah melemah 35 poin atau sekitar 0,20 persen ke level Rp17.880 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar Rupiah mendekati level Rp17.900 per dolar AS terendah sepanjang sejarah. Bahkan diprediksi Rupiah akan terus melemah hingga mencapai Rp18.000 per dolar AS.
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) sudah mengambil sikap mengenai pelemahan nilai tukar Rupiah. BI akan terus melakukan intervensi pasar demi menjaga stabilitas Rupiah.
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta Rupiah melemah mendekati Rp17.900 per dolar AS, Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
1. Penyebab Rupiah Melemah
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal yang mempengaruhi datang dari setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sementara negosiasi terus berlanjut mengenai program nuklir Iran dan isu-isu keamanan regional. Usulan kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump.
“Prospek kesepakatan damai telah mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal. Namun, lalu lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap jauh di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga premi risiko geopolitik tetap tertanam di pasar minyak,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jakarta, Jumat.
Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata. Minyak mentah sempat pulih pada hari Kamis setelah laporan tentang pertukaran militer baru antara pasukan AS dan Iran, meskipun kenaikan tersebut memudar kemudian karena optimisme diplomatik muncul kembali.
Investor juga menilai latar belakang makroekonomi yang lebih luas setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga tetap tinggi. Inflasi pengeluaran konsumsi pribadi yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Pada saat yang sama, data pertumbuhan ekonomi AS tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan pada kuartal pertama tahun 2026, dengan PDB hanya meningkat sebesar 1,6, direvisi turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 2, menurut Biro Analisis Ekonomi AS.
Pada saat yang sama, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Klaim Pengangguran Awal meningkat menjadi 215.000 untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui perkiraan 211.000.
2. Capital Outflow dan Permintaan Dolar AS
Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Kemudian, prospek anggaran dan pengeluaran negara yang ketat, serta kekhawatiran defisit anggaran menjadi sorotan lembaga pemeringkat kredit global seperti S&P Global, Modyst dan Fith Rating, yang turut membebani kepercayaan pasar
Tingginya harga minyak global meningkatkan biaya impor energi Indonesia, yang kemudian memicu lonjakan permintaan valuta asing (dolar AS) untuk pembayaran impor, sehingga berdampak terhadap melemahnya surplus neraca perdagangan serta ekspor yang melambat membuat pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas.
Selain itu, tingginya permintaan dolar AS secara musiman untuk kebutuhan korporasi (seperti pembayaran dividen) dan kebutuhan impor rutin menekan pergerakan rupiah. Ditambah sentimen pasar terhadap kebijakan dan aset Indonesia.
Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN.
3. Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp18.000
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.880-Rp17.940 per dolar AS dan untuk sepekan berada di Rp17.800-Rp18.100 per dolar AS.
4. Sikap BI soal Rupiah Melemah Dekati Rp17.900
Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa guncangan terhadap Rupiah dipicu oleh akumulasi faktor eksternal dan kebutuhan musiman di dalam negeri.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso mengatakan bahwa eskalasi konflik militer yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah menjadi motor utama di balik tingginya ketidakpastian pasar finansial global. Faktor ini kemudian berkelindan dengan lonjakan permintaan valuta asing (valas) di pasar domestik yang tidak diimbangi oleh pasokan likuiditas Dolar AS yang memadai.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas," ungkap Denny dalam keterangan resminya, Jumat.
5. BI Lakukan Intervensi
Guna meredam volatilitas nilai tukar, Bank Indonesia memastikan tidak akan tinggal diam. Denny menegaskan bahwa bank sentral memegang komitmen penuh untuk mengawal stabilitas moneter secara terus-menerus tanpa jeda, baik di pasar domestik maupun internasional.
"Sebagaimana disampaikan Bapak Gubernur Bank Indonesia pada kesempatan sebelumnya, Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," jelas Denny.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.
Selain mengandalkan intervensi fisik di pasar spot dan derivatif, BI juga terus memperkuat lini pertahanan lewat bauran kebijakan moneter (monetary policy mix).
Langkah ini dieksekusi dengan mendesain struktur suku bunga instrumen moneter yang ramah pasar (pro-market) guna mencegah terjadinya fenomena hengkangnya modal asing (capital outflow) dan mempertahankan imbal hasil (yield) aset keuangan domestik agar tetap atraktif di mata investor global.
6. Pembatasan Dolar
Dari sisi pengendalian permintaan, Bank Indonesia bergerak cepat memotong ruang gerak aktivitas spekulasi valas di tingkat hilir.
"Dari sisi permintaan dolar AS, Bank Indonesia juga telah menetapkan threshold tunai beli valas terhadap Rupiah tanpa underlying menjadi USD25.000 per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026,” katanya.
BI resmi memperketat aturan main transaksi tunai harian dengan menetapkan ambang batas (threshold) baru yang jauh lebih ketat untuk pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung (underlying asset). Kebijakan restriktif ini dipatok efektif berjalan mulai bulan depan.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi," tegas Denny.
Denny memastikan bahwa jajaran dewan gubernur akan terus memantau dengan cermat setiap dinamika yang berkembang di pasar keuangan. BI siap meluncurkan bauran amunisi lanjutan secara terukur demi mengawal ketahanan eksternal makroekonomi nasional.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia," pungkasnya.
7. Purbaya Sebut Stres Rupiah Melemah
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bakal memperkuat pasar obligasi sebagai upaya mitigasi pemerintah.
Purbaya juga sempat melontarkan kelakar saat menjawab pertanyaan awak media soal adakah stressing atau penekanan kebijakan baru yang akan diambil pemerintah.
"Ya saya stress," kata Purbaya di kompleks DJP, Jakarta, Rabu (27/5/2026).
"Enggak (tidak ada stressing berarti), kami sudah hitung. Pada waktu simulasi harga minyak dunia mencapai 100 juta per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kami perhitungkan. Jadi enggak ada masalah, saya enggak harus hitung ulang APBN-nya," imbuhnya.









