Kasum TNI: Indonesia Bisa Bersaing di Level Dunia!
JAKARTA – Kepala Staf Umum (Kasum) TNI yang juga Ketum PBTI, Letjen Richard Tampubolon berharap agar bisa membawa Indonesia ke olimpiade. Harapan itu disampaikan Richard dalam ulang tahunnya ke-57.
“Indonesia pernah memiliki jejak yang menjanjikan,”ujar Letjen Richard Tampubolon, Rabu (27/5/2026).
Saat itu, Olimpiade Barcelona 1992, taekwondo masih berstatus cabang eksibisi, Indonesia mampu membawa pulang tiga medali perak dan satu perunggu melalui Dirc Richard Talumewo, Rahmi Kurnia, Susilawati, dan Yefi Triaji.
“Kala itu, muncul keyakinan bahwa Indonesia bisa bersaing di level dunia. Ketika taekwondo resmi dipertandingkan pada Olimpiade Sydney 2000, Indonesia mengirim Juana Wangsa Putri,” ujarnya.
Empat tahun kemudian di Athena 2004, Juana kembali tampil bersama Satrio Rahadani. Namun setelah itu, perjalanan Indonesia seperti terhenti.
Jenderal Kopassus itu mengatakan, sejak Athena 2004, tidak ada lagi atlet taekwondo Indonesia yang tampil di Olimpiade.
Dua dekade berlalu tanpa wakil Merah Putih di arena paling bergengsi dunia. Generasi atlet berganti, kepengurusan berubah, program silih berganti, tetapi mimpi kembali ke Olimpiade belum juga terwujud.
Indonesia tidak pernah kekurangan bakat. Ribuan dojang tersebar di berbagai daerah. Kejuaraan nasional terus digelar. Atlet-atlet muda terus lahir. Namun menuju Olimpiade, bakat saja tidak cukup.
Dibutuhkan sistem pembinaan jangka panjang, sport science, pelatih berkualitas, jam terbang internasional, hingga keberanian membangun target besar yang mungkin terasa mustahil.
Tantangan itu semakin berat karena Asia merupakan kawasan paling kompetitif dalam dunia taekwondo.
Dalam berbagai kesempatan, Richard Tampubolon mengakui tantangan besar tersebut. Saat membuka Rakernas PBTI 2025, ia menegaskan bahwa taekwondo Indonesia masih menghadapi persoalan konsistensi prestasi internasional dan optimalisasi pelatnas.
“Kita masih menghadapi tantangan, seperti konsistensi prestasi atlet di tingkat internasional dan optimalisasi pelatnas. Rakernas 2025 adalah momentum untuk memperkuat kolaborasi dan menyusun strategi terukur,” ujar Richard.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penanda dimulainya gagasan besar “Road to Olympic” menuju Los Angeles 2028.
Sebuah misi yang bukan sekadar mengejar tiket kualifikasi, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri taekwondo Indonesia untuk bersaing di level tertinggi.










