Penyebab Novak Djokovic Ogah Ikut Aksi Boikot Media di French Open 2026
PARIS - Turnamen Grand Slam French Open 2026 dipastikan diwarnai ketegangan setelah sejumlah petenis top dari sektor putra dan putri memutuskan untuk memboikot sesi konferensi pers dengan media. Kendati demikian, megabintang tenis dunia, Novak Djokovic, memilih jalan berbeda dengan tidak ikut serta dalam aksi mogok massal tersebut.
Aksi protes ini dipicu oleh ketidakpuasan para pemain terkait pembagian keuntungan dengan pihak penyelenggara Grand Slam. Saat ini, para petenis dilaporkan hanya menerima 14,9 persen dari total pendapatan French Open.
Sebagai bentuk protes, para bintang tenis dunia berencana untuk menyudahi sesi konferensi pers pra-turnamen jauh lebih cepat daripada durasi normal biasanya. French Open 2026 sendiri sudah digelar sejak 18 Mei hingga 7 Juni 2026 mendatang.
1. Suarakan Keadilan
Meskipun menyatakan dukungannya terhadap perjuangan finansial rekan-rekan seprofesinya, Djokovic menegaskan dirinya tidak akan ambil bagian dalam boikot media kali ini. Petenis veteran berusia 39 tahun itu berdalih bahwa ia sama sekali tidak dilibatkan dalam proses perancangan aksi tersebut.
"Saya bukan bagian dari proses, rencana, atau pengambilan keputusan tersebut. Jadi saya sama sekali tidak terlibat di dalamnya dan tidak bisa berkomentar soal itu," ujar Djokovic, melansir dari Give Me Sport, Minggu (24/5/2026).
"Namun, apa yang bisa terus saya lakukan adalah mengadvokasi para pemain, seperti yang selalu saya lakukan. Bukan hanya untuk pemain top, tetapi juga bagi mereka yang berperingkat lebih rendah," tambahnya.
Djokovic juga mengingatkan ekosistem tenis sering kali melupakan para pemain papan bawah yang kesulitan membiayai karier mereka dari olahraga ini, serta meminta dunia tenis belajar dari konflik yang sempat terjadi di dunia golf agar bisa lebih bersatu.
2. Jannik Sinner hingga Aryna Sabalenka Kompak Mulai Aksi Protes
Sebelumnya, sejumlah nama besar telah menunjukkan sinyal perlawanan. Petenis nomor satu dunia putra, Jannik Sinner, dilaporkan menjadi salah satu pelopor gerakan ini.
Sinner bahkan langsung bungkam dan menolak menjawab saat ditanya mengenai peluang juaranya di Roland Garros pasca-mundurnya Carlos Alcaraz. Sikap yang lebih tegas ditunjukkan oleh petenis nomor satu dunia putri, Aryna Sabalenka.
Atlet asal Belarusia tersebut langsung menyudahi sesi konferensi persnya lebih awal pada hari Jumat, atau dua hari menjelang pembukaan French Open 2026.
"Saya konsisten dengan ucapan saya. Kami hanya ingin melakukan ini dengan cara yang penuh rasa hormat sejak awal," tegas Sabalenka.
"Kalian tahu betapa kami menghormati dan mengapresiasi kalian. Ini bukan keputusan kalian dan ini bukan tentang kalian (media). Kami hanya sedang mencoba berjuang untuk mendapatkan persentase pembagian yang adil,” tutupnya.










