Rupiah Melemah Bikin Harga Susu Anak hingga Kosmetik Terancam Naik, Ibu-Ibu Waspada!

Rupiah Melemah Bikin Harga Susu Anak hingga Kosmetik Terancam Naik, Ibu-Ibu Waspada!

Gaya Hidup | okezone | Selasa, 19 Mei 2026 - 13:10
share

JAKARTA - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi memengaruhi harga berbagai kebutuhan rumah tangga. Mulai dari susu anak, pampers, kosmetik, hingga kebutuhan sehari-hari lain yang masih bergantung pada bahan baku atau produk impor.

Kondisi ini membuat para ibu rumah tangga perlu lebih cermat dalam mengatur pengeluaran, terutama ketika harga kebutuhan naik sementara penghasilan keluarga belum tentu ikut bertambah.

Perencana Keuangan Andy Nugroho mengatakan, langkah utama yang harus dilakukan adalah memperketat budgeting dan membuat skala prioritas pengeluaran.

“Ketika harga barang naik sementara penghasilan tidak naik, otomatis kita harus lebih kencang lagi melakukan budgeting dan membuat skala prioritas pengeluaran,” ujar Andi.

Atur Keuangan Keluarga

Menurutnya, pengeluaran keluarga sebaiknya dibagi menjadi beberapa tingkat prioritas agar kondisi keuangan tetap aman di tengah ketidakpastian ekonomi.

Prioritas pertama adalah kebutuhan yang sifatnya wajib dan tidak bisa ditunda. Misalnya cicilan utang, uang sekolah anak, pembayaran air, listrik, hingga kebutuhan pokok lain yang berkaitan dengan kewajiban rumah tangga.

“Pengeluaran yang sangat penting dan wajib harus diutamakan dulu,” katanya.

Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah keluarga mengatur pengeluaran untuk kebutuhan penting yang masih bisa disesuaikan jumlahnya. Kategori ini mencakup susu anak, pampers, kosmetik, biaya makan sehari-hari, hingga transportasi ke kantor.

Andi menyebut kebutuhan pada kategori ini masih bisa diakali dengan mencari alternatif yang lebih murah tanpa menghilangkan fungsi utamanya. Misalnya mengganti merek susu atau produk kebutuhan rumah tangga dengan harga yang lebih terjangkau.

“Kalau ternyata harganya sudah terlalu mahal, pilihannya bisa mengganti dengan barang serupa yang lebih murah, beda merek, atau kualitasnya diturunkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengeluaran transportasi juga bisa ditekan dengan mencari opsi yang lebih hemat. Misalnya berbagi kendaraan dengan rekan kerja, menggunakan transportasi umum, hingga bersepeda ke kantor.

“Kalau biaya transport terasa memberatkan, mau tidak mau kita cari alternatif yang lebih hemat,” katanya.

Sementara itu, prioritas terakhir adalah pengeluaran yang bersifat hiburan atau kesenangan pribadi. Pengeluaran seperti nongkrong di kafe, jajan berlebihan, hingga menonton hiburan sebaiknya dikurangi sementara waktu jika kondisi keuangan sedang ketat.

“Untuk kebutuhan yang sifatnya kesenangan, ini memang harus dihentikan dulu ketika pengeluaran semakin besar sementara penghasilan tidak bertambah,” ujar Andi.

Ia menegaskan, disiplin mengatur pengeluaran menjadi kunci agar kondisi finansial keluarga tetap stabil di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan harga kebutuhan rumah tangga.

Topik Menarik