Siomay yang Pakai Ikan Sapu-Sapu Dipastikan Mengandung Logam Berat
JAKARTA - Pihak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menanggapi isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay. Isu tersebut kian marak dibahas setelah Pemerintah Kota (Pemkot) DKI Jakarta berhasil menangkap 11 ton ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung belum lama ini.
Menanggapi hal tersebut, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, angkat bicara mengenai risiko kesehatan yang mengintai.
Triyanto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki sifat bioakumulasi, di mana logam berat yang terserap dari air yang tercemar akan mengendap secara permanen di dalam jaringan tubuh, termasuk dagingnya.
"Logam berat yang terkandung di ikan sapu-sapu kalau dimakan dalam jumlah yang melebihi batas ambang amannya, itu bahaya," ujar Triyanto usai sesi diskusi di kantornya.
Ia menambahkan, meski proses pengolahan dilakukan sedemikian rupa, kandungan logam berat tersebut tidak akan hilang.
"Logam berat ini sifatnya bioakumulasi, dia tidak akan berkurang," tegasnya.
Terkait konsumsi siomay yang diduga mengandung ikan sapu-sapu, Triyanto meminta masyarakat untuk tidak terlalu panik jika hanya mengonsumsi dalam jumlah kecil.
Namun, risiko akan meningkat drastis jika menjadi konsumsi rutin.
"Kalau kita makan setiap minggu sampai 8 kilo berturut-turut setiap tahun, nah baru itu mungkin itu bahaya. Tapi kalau sekali-sekali saya kira itu masih bisa ditolerir oleh tubuh kita," jelasnya.
Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat lebih jeli saat membeli makanan.
"Yang penting kita lebih peduli, kita tanya sama penjualnya, mohon maaf Bang ini dagingnya sehat atau nggak gitu ya. Nanti baru ditelusuri lagi," pungkasnya.










