Negosiasi Damai Gagal, Kanselir Jerman Sebut Iran Telah Permalukan Amerika Serikat

Negosiasi Damai Gagal, Kanselir Jerman Sebut Iran Telah Permalukan Amerika Serikat

Terkini | okezone | Rabu, 29 April 2026 - 15:05
share

JAKARTA — Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan bahwa Iran telah "mempermalukan" Amerika Serikat (AS) dengan membawa utusan Washington ke Pakistan untuk melakukan pembicaraan yang tidak membuahkan hasil. Pernyataan Merz ini memperlihatkan keretakan antara AS dengan sekutu-sekutu Eropanya terkait ketegangan di Iran.

Berbicara di depan para mahasiswa di Marsberg pada Senin (27/4/2026), Merz mengatakan bahwa Iran "jelas sangat terampil dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat terampil dalam tidak bernegosiasi; membiarkan Amerika pergi ke Islamabad dan kemudian pergi lagi tanpa hasil apa pun."

“Seluruh bangsa (AS) dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh apa yang disebut Garda Revolusi ini. Karena itu, saya berharap ini berakhir secepat mungkin,” kata Merz, sebagaimana dilansir Reuters.

Krisis Iran yang berkepanjangan terus membuat hubungan antara Washington dan mitra NATO-nya semakin tegang. Baru-baru ini, sebuah memo Pentagon yang bocor tampaknya menunjukkan bahwa AS mempertimbangkan opsi untuk menghukum sekutu yang tidak mendukung Presiden Donald Trump dalam misi militernya di Iran.

Merz, yang mengizinkan AS menggunakan pangkalan udara Ramstein untuk mengoordinasikan serangan terhadap Iran, mengatakan bahwa ia tidak dapat melihat strategi keluar (exit strategy) yang dikejar Trump untuk mengakhiri konflik. Trump sendiri mengeklaim konflik telah dihentikan sementara sampai kesepakatan tercapai.

“Jika saya tahu bahwa ini akan berlanjut seperti ini selama lima atau enam minggu dan semakin memburuk, saya akan mengatakannya kepada beliau dengan lebih tegas,” kata Merz. Ia membandingkan konflik di Iran dengan perang berkepanjangan Washington di Irak dan Afghanistan.

Kebuntuan Diplomatik

Prospek perdamaian kembali tertutup pada Sabtu (25/4/2026) ketika Trump membatalkan rencana untuk mengirim delegasi ke Islamabad guna bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Araghchi membawa proposal baru yang membayangkan pembicaraan secara bertahap, dengan isu nuklir dikesampingkan pada tahap awal.

 

Kerangka kerja itu dilaporkan akan dimulai dengan mengakhiri perang dan memberikan jaminan keamanan bahwa Washington tidak dapat memulainya kembali di kemudian hari. Setelah hal itu dicapai, para negosiator baru akan berupaya menyelesaikan blokade AS dan nasib Selat Hormuz.

Trump mengatakan pada Sabtu bahwa ia membatalkan kunjungan tersebut karena biaya perjalanan yang dianggapnya tidak sebanding dengan tawaran yang ada. “Iran menawarkan banyak hal, tetapi tidak cukup,” katanya.

Araghchi, yang bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin, menulis di Telegram bahwa Iran sedang mempertimbangkan permintaan Trump untuk bernegosiasi. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa Trump meminta negosiasi karena AS belum mencapai satu pun tujuannya.

Hingga saat ini, blokade di Selat Hormuz terus berdampak pada pasar global, meningkatkan harga minyak dunia, dan menekan perekonomian banyak negara.

Topik Menarik