Pilu di RS Polri, Tangis Keluarga Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Pecah Menunggu Kabar
JAKARTA — Masyarakat mulai berdatangan ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Mereka ingin memastikan sekaligus melaporkan anggota keluarganya yang diduga menjadi korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Cikarang di Bekasi Timur.
Suasana haru menyelimuti, mereka tampak lesu dan ada yang menangis haru menantikan kepastian anggota keluarganya itu. Berdasarkan pantauan, anggota keluarga tampak menunggu di ruang Pos Antemortem RS Polri Kramat Jati untuk memastikan kejelasan anggota keluarganya.
Sejumlah anggota keluarga menyerahkan data-data seperti foto, KTP, hingga ijazah korban. Ada pula anggota keluarga yang menangis sedih dengan wajah pasrah menantikan kepastian anggota keluarganya itu.
Salah satu keluarga korban, Watarisin (70), yang tampak wajahnya sembab, menantikan kepastian kabar keponakannya itu, Vica Acnia Pratiwi (23).
"Kan saya ditelepon dari adik di Bekasi bahwa ponakan kita, namanya Vica Acnia Pratiwi, ponakan ini pulang kerja naik kereta, ditelepon oleh saudaranya tidak ada balasan sejak kejadian itu," ujar Watarisin, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, korban hingga kini belum diketahui keberadaannya. Ia diminta saudaranya untuk mengecek terlebih dahulu ke RS Polri terkait keponakan tersayangnya itu. Namun, hingga kini belum ada kepastian. Hanya saja, ia sudah mengurus data KTP dan ijazah untuk diserahkan ke tim DVI RS Polri guna proses identifikasi.
"Karena dia (saudaranya) jauh di Bekasi, saya tinggal dekat sini sehingga saya diminta cek dahulu ke rumah sakit ada tidak dia (korban). Saya cek ke forensik, katanya ke sini, DVI," tuturnya.
"Masih tunggu (kabar kepastian korban), masih cek dari DVI, ada atau tidak. Tadi diminta KTP dan ijazah untuk sidik jari," terang Watarisin.
Ia menambahkan, orangtua korban masih dalam perjalanan ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, dari Sumatera. Pasalnya, orangtua korban juga sedang berduka karena mertuanya baru saja meninggal dunia di kampung halamannya di Sumatera.
Ia menambahkan, korban sendiri bekerja di Jakarta dan memang selalu menaiki KRL dari Bekasi ke Jakarta. Namun, pasca insiden kecelakaan KRL dengan KA jarak jauh di Bekasi Timur, korban tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Bapaknya dan ibunya masih di kampung, masih dalam perjalanan ke sini, karena mertuanya meninggal di kampung di Sumatera, sedang berduka juga. Dia (korban) kerja di Jakarta, tinggal di Bekasi. Orang tuanya juga tinggal di Bekasi. Orangtuanya ke Sumatera karena ada mertuanya meninggal," katanya.










