Bareskrim dan FBI Buru Ribuan Pembeli Phishing Tools

Bareskrim dan FBI Buru Ribuan Pembeli Phishing Tools

Nasional | okezone | Jum'at, 24 April 2026 - 03:10
share

JAKARTA - Bareskrim Polri bersama FBI memburu ribuan pembeli phishing tools buatan tersangka GWL dan FYTP, pasangan kekasih asal Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Himawan Bayu Aji, mengungkapkan bahwa proses identifikasi masih terus didalami terhadap sekitar 2.400 pembeli alat phishing tersebut.

"Ini sedang diidentifikasi secara mendalam oleh anggota. Sehingga kredensialnya diketahui dari mana saja, siapa, itu bisa terungkap dari 2.400 pembeli tersebut," kata Himawan, Kamis (23/4/2026).

"Karena ini belum selesai, masih ada proses pendalaman. Sehingga nanti akan terus dilakukan pengembangan," tambahnya.

Ia menjelaskan, kerja sama dengan FBI terus dilakukan karena para pembeli alat phishing tersebut bisa berada di berbagai negara. Begitu juga dengan para korban yang tidak hanya berasal dari satu negara.

"Ini adalah kegiatan transnasional, di mana pelaku bisa berada di satu negara, tetapi korban ada di berbagai negara. Contohnya ada di Amerika dan Moldova sebagai bagian dari korban. Sehingga hal ini sangat mungkin terjadi," ujar Himawan.

 

Menurutnya, kerja sama tersebut bertujuan untuk mendata keberadaan pelaku serta korban phishing yang menggunakan alat buatan pasangan asal NTT tersebut.

"Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, baik nasional maupun internasional, salah satunya FBI, dalam rangka mendukung data agar kami dapat melihat siapa saja korban yang terdampak," tuturnya.

Diketahui, total terdapat 2.440 pelaku kejahatan yang membeli alat phishing milik GWL selama periode 2019 hingga 2024. Seluruh transaksi dikonfirmasi menggunakan aset kripto yang tercatat dalam riwayat pembelian.

Dalam periode tersebut, sekitar 34.000 korban teridentifikasi pada Januari 2023 hingga April 2024. Dari jumlah itu, sebanyak 17.000 korban atau sekitar 50 persen terkonfirmasi mengalami peretasan atau account compromise.

"Termasuk keberhasilan skrip dalam melewati mekanisme pengamanan berlapis atau multi-factor authentication," ujarnya.

Ia menambahkan, dari hasil analisis terhadap 157 korban, sebanyak 53 persen berasal dari Amerika Serikat. Selain itu, terdapat sembilan entitas perusahaan dari Indonesia yang juga menjadi korban.

"Estimasi kerugian para korban yang ditimbulkan dari penggunaan skrip yang dijual oleh tersangka pada periode Januari 2023 hingga April 2024 diperkirakan mencapai sekitar 20 juta dolar AS atau sekitar Rp350 miliar," tutupnya.

Topik Menarik