Direksi Kompak Borong Saham BBCA, Ada Apa?

Direksi Kompak Borong Saham BBCA, Ada Apa?

Ekonomi | okezone | Sabtu, 18 April 2026 - 17:49
share

JAKARTA - Direksi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kompak borong saham BCA hingga kuartal I-2026.

Ini bukan sekadar transaksi biasa tapi adalah eksekusi strategi buy on weakness, membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon. Mereka memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA.

Tercatat, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menambah amunisi secara masif dengan dana hingga Rp7,93 miliar.

Kemudian, Wakil Presiden Direktur John Kosasih mengeksekusi pembelian senilai Rp4,37 miliar pada Maret 2026.

Direksi lainnya Vera Eve Lim mengeluarkan dana segar Rp3,84 miliar untuk mempertebal kepemilikan.

Selanjutnya, Direktur BCA Santoso menambah saham dengan transaksi Rp3,46 miliar pada Maret 2026.

Direktur Lianawaty Suwono juga memborong 300.000 saham senilai Rp2,1 miliar di akhir Januari 2026 justru saat pasar sedang bergejolak.

 

Pengamat pasar modal Rendy Yefta mengatakan saat ini, saham BBCA hanya diperdagangkan di kisaran PER sekitar 15 kali. Artinya, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki saham BBCA

"Jika dibandingkan dengan saham ARTO diperdagangkan di sekitar PER 64 kali. Dengan kata lain, investor harus membayar valuasi lebih dari 4 kali lebih mahal dibanding BBCA untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan," katanya di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Dia menjelaskan, fenomena inilah yang disebut salah harga. Pasar seolah sedang memberi diskon besar kepada saham BBCA. Ketika investor mulai menyadari ketimpangan ini, biasanya yang terjadi adalah valuasi BBCA akan naik kembali menuju level yang lebih wajar.

"Valuasi murah ini dikombinasikan dengan sinyal akumulasi orang dalam hanya bermuara pada satu kesimpulan: saham BBCA sedang memasang kuda-kuda untuk rebound kencang," ujarnya.

Dia menambahkan, jika BBCA saja kembali dihargai sedikit lebih tinggi, misalnya PER 18–20 kali seperti rata-rata historisnya, maka harga sahamnya berpotensi naik signifikan dari level sekarang. Target menembus Rp10.000 per lembar dalam beberapa bulan menjadi skenario yang sangat realistis. 

"Jangan lupa, rekor All-Time High saham ini pernah nyaris menyentuh Rp11.000 per lembar. Artinya, ruang kenaikan masih terbuka lebar," katanya.

Topik Menarik