IHSG Ditutup Melonjak 2,34 ke 7.675, Didukung Kepercayaan Investor
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada sesi terakhir perdagangan hari ini. IHSG naik 175,76 poin atau 2,34 ke level 7.675,95.
Pada penutupan perdagangan, Selasa (14/4/2026), terdapat 570 saham menguat, 163 saham melemah, dan 226 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp24,5 triliun dari 49,4 miliar saham yang diperdagangkan.
Indeks LQ45 naik 2,41 ke level 764, indeks JII menguat 1,71 ke level 531, indeks IDX30 naik 1,77 ke level 406, dan indeks MNC36 menguat 1,43 ke level 319.
Penguatan IHSG dalam beberapa hari terakhir dinilai menjadi sinyal positif atas meningkatnya kepercayaan investor terhadap arah reformasi pasar modal Indonesia.
Di tengah ketidakpastian global, tren ini mencerminkan respons pasar yang semakin konstruktif terhadap berbagai kebijakan yang digulirkan regulator.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa penguatan IHSG merupakan hasil dari reformasi pasar modal yang tengah dilakukan. Selain itu, pasar saham domestik dinilai bergerak menuju transparansi yang lebih tinggi dan semakin selaras dengan standar global.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa sejumlah kebijakan baru telah dirancang untuk menjawab kekhawatiran pelaku pasar, termasuk dari penyedia indeks global.
Langkah tersebut mencakup peningkatan batas minimum free float dari 7,5 menjadi 15, keterbukaan data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1, hingga kewajiban pelaporan Ultimate Beneficial Owner (UBO). Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat integritas dan akuntabilitas pasar modal Indonesia.
Senior Market Chartist Nafan Aji Gusta menilai respons positif pasar tidak lepas dari konsistensi reformasi yang dijalankan.
Ia mencontohkan keputusan FTSE Russell yang tetap menempatkan Indonesia dalam kategori secondary emerging market sebagai indikator kepercayaan global.
“FTSE Russell masih mempertahankan Indonesia di secondary emerging market. Ini menjadi langkah strategis yang menunjukkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal kita,” ujar Nafan, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, konsistensi dalam menjalankan reformasi menjadi faktor krusial. Jika kebijakan yang telah dirancang dapat diimplementasikan secara berkelanjutan, transparansi pasar akan meningkat dan pada akhirnya memperkuat minat investor global.
Ia juga menekankan bahwa kondisi ini penting untuk menjaga posisi Indonesia tetap berada di level emerging market, bahkan membuka peluang peningkatan status di masa depan.
“IHSG kita sudah mulai mengalami penguatan di tengah ketidakpastian global. Ini menunjukkan bahwa pasar merespons positif arah kebijakan yang ada,” tambahnya.
Dengan kombinasi reformasi struktural dan respons pasar yang semakin solid, prospek pasar modal Indonesia dinilai semakin menjanjikan di mata investor domestik maupun global










