Bos Aprilia Ungkap Kunci Rahasia Kehebatan Marco Bezzecchi di Awal Musim MotoGP 2026
AUSTIN – Pembalap Tim Aprilia Racing, Marco Bezzecchi membuktikan kecepatan saja tidak cukup untuk memimpin klasemen MotoGP, sebab dibutuhkan ketangguhan mental untuk bangkit dari keterpurukan. Karena alasan itu, CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, memuji habis-habisan performa pembalapnya yang dinilai bereaksi seperti seorang juara setelah melewati rentetan hasil mengecewakan di sesi Sprint.
Meski sempat melakukan kesalahan fatal di Sirkuit Buriram, Thailand dan Circuit of the Americas (COTA) saat memburu kemenangan, Bezzecchi tetap kukuh di puncak klasemen ketika kompetisi bersiap memasuki seri Eropa. Tren positif ini luar biasa, mengingat ia telah mencatatkan lima kemenangan Grand Prix secara beruntun sejak akhir 2025.
1. Dilema Sprint Race
Ironisnya, dominasi Bezzecchi di balapan utama berbanding terbalik dengan performanya di hari Sabtu alias ketika sesi sprint race. Jika bukan karena insiden di Sprint, ia seharusnya bisa mengantongi tambahan 24 poin lebih banyak.
Sejauh ini, satu-satunya poin Sprint race miliknya hanya berasal dari posisi keempat di Brasil. Namun, kemenangan terakhirnya di COTA menjadi bukti nyata kualitas teknis motor RS-GP dan kegigihan Bezzecchi.
Rider asal Italia itu berhasil menang meski harus membalap dengan kondisi motor yang tidak sempurna akibat sayap belakang yang rusak setelah bersenggolan dengan Pedro Acosta di lap pertama.
"Kecepatan Marco terhambat karena hilangnya sayap belakang, terutama di titik pengereman keras yang banyak terdapat di sirkuit ini. Bagian belakang motor menjadi lebih ringan dan tidak stabil, namun dia mampu beradaptasi dengan sangat baik. Jika ada yang meragukan peran aerodinamika, silakan saja,” ujar Rivola, melansir dari Crash, Jumat (3/4/2026).
2. Persaingan Internal
Di sisi lain garasi, Jorge Martin terus mengintai di posisi kedua klasemen dengan selisih hanya empat poin. Berbeda dengan Bezzecchi, Martin tampil sangat konsisten dengan selalu mencetak poin di setiap balapan.
Namun, Rivola mencatat pembalap Spanyol itu masih membutuhkan kepercayaan diri ekstra untuk kembali ke performa ledakannya yang maksimal, terutama setelah terlihat mengalami kendala fisik di akhir balapan COTA.
Kini, seluruh tim akan menghadapi jeda satu bulan karena penundaan seri Qatar. Bagi Rivola, waktu ini akan digunakan untuk memberikan ruang pemulihan bagi Martin serta mengonsolidasi riset aerodinamika yang dikembangkan secara maraton oleh pabrikan Noale sejak tes Sepang, Malaysia.
"Kami tiba di musim ini dengan 'napas tersengal' karena memacu pengembangan aerodinamika hingga hari terakhir. Melihat kerja keras itu terbayar sekarang membuat saya sangat bahagia," tutup Rivola.










