Kisah Mantan Pemain Timnas Indonesia Kurniawan Dwi Yulianto, Pernah Berkarier di Klub Italia Sampdoria dan Berlatih dengan Roberto Mancini
NAMA Kurniawan Dwi Yulianto tetap abadi sebagai salah satu ikon terbesar sepak bola Indonesia. Jauh sebelum tren pemain lokal merumput di luar negeri seramai sekarang, pria yang akrab disapa si Kurus ini sudah lebih dulu menapaki kerasnya kompetisi Eropa.
Langkah besarnya dimulai saat Kurniawan terpilih dalam program PSSI Primavera yang membawanya terbang ke Italia untuk menimba ilmu di Sampdoria pada tahun 1993.
1. Pengalaman Berharga
Statusnya saat itu adalah pemain muda berbakat. Tak heran kualitas Kurniawan sukses mencuri perhatian Sven-Goran Eriksson, pelatih Sampdoria kala itu.
Tak tanggung-tanggung, anak muda asal Magelang ini dipercaya untuk mencicipi atmosfer latihan bersama tim utama. Di sana, ia berbagi lapangan dengan deretan megabintang dunia seperti Roberto Mancini, Ruud Gullit, David Platt, hingga Attilio Lombardo.
Perputaran Uang Lebaran Tembus Rp137 Triliun, Kapolri Janji Optimalkan Operasi Ketupat 2026
Pengalaman yang awalnya dianggap mustahil itu pun berubah menjadi kenyataan yang membanggakan bagi Kurniawan. Momen puncak kedekatannya dengan Il Samp –julukan Sampdoria– terjadi pada Mei 1994, saat ia disertakan dalam tur pramusim Asia ke Thailand, Hong Kong, dan Indonesia.
Pada 8 Mei 1994, sejarah tercipta di Stadion Utama Senayan (kini GBK). Di hadapan sekira 100.000 penonton yang memadati stadion, Kurniawan yang mengenakan seragam Sampdoria berhasil mencetak gol ke gawang Indonesia Selection.
Walau hanya tampil selama 45 menit, gol tersebut menegaskan potensinya sebagai penyerang kelas dunia di usia yang masih 17 tahun.
2. Petualangan Singkat di Liga Swiss
Setelah menuntaskan masa pramusim bersama Sampdoria, perjalanan karier Kurniawan berlanjut ke Swiss. Ia bergabung dengan FC Luzern yang berkompetisi di kasta tertinggi Liga Swiss.
Di sana, Kurniawan mencatatkan sejarah sebagai pesepak bola Indonesia pertama yang merasai atmosfer Piala Intertoto. Salah satu kenangan ikoniknya di tanah Swiss adalah saat harus berhadapan dengan Tottenham Hotspur yang kala itu diperkuat oleh penyerang legendaris Jerman, Jurgen Klinsmann.
Kisah Calvin Verdonk, Satu-satunya Pemain Timnas Indonesia yang Lolos 16 Besar Liga Europa 2025-2026
Kiprahnya di FC Luzern tercatat menghasilkan tiga gol. Mengenai jumlah penampilan, terdapat beberapa catatan statistik, namun ia setidaknya tampil dalam 12 hingga 25 pertandingan sepanjang musim 1994-1995.
Sayangnya, karier Kurniawan di Swiss harus berakhir pada tahun 1996 karena kendala kuota pemain asing. Meski kebersamaannya dengan klub-klub Eropa tersebut terhitung singkat, pengalaman berharga berlatih bersama Mancini dan mencetak gol untuk Sampdoria tetap menjadi milestone luar biasa untuk pemain Indonesia.










