Bapanas Klaim Cadangan Pangan Nasional Aman meski Ancaman El Nino Mengintai
JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional memprediksi adanya fenomena Godzilla El Nino mulai April 2026. Kondisi iklim tersebut diperkirakan memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering di Indonesia, sehingga berpotensi memberi tekanan pada sektor pertanian nasional.
Meski demikian, Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengklaim ketersediaan pangan nasional tetap berada dalam kondisi aman. Pemerintah menilai cadangan pangan yang tersedia saat ini cukup kuat untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah potensi gangguan iklim.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pasokan pangan nasional. Menurutnya, berdasarkan proyeksi neraca pangan, posisi stok dan produksi saat ini dinilai sangat memadai.
“Kalau kita bicara ketersediaan, kita tidak perlu khawatir. Berdasarkan proyeksi neraca pangan kita, posisi stok sangat kuat. Tahun lalu carry over stock kita sekitar 12,4 juta ton, kemudian saat ini cadangan pangan di Bulog sekitar 4,22 juta ton,” ujar Ketut dalam keterangan resminya, Minggu (29/03/2026).
Selain beras, sejumlah komoditas strategis lain juga dinilai aman untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Stok jagung tercatat sekitar 155 ribu ton, sedangkan minyak goreng mencapai 117 ribu kiloliter.
Di sisi produksi, tren pasokan pangan nasional juga disebut menunjukkan penguatan seiring berlangsungnya musim tanam dan panen di berbagai daerah. Produksi pangan telah berjalan sejak awal tahun dan diperkirakan mencapai puncaknya saat panen raya pada April mendatang.
“Produksi di bulan Januari sudah ada, di bulan Februari sudah ada, Maret sedang berproduksi, bahkan mungkin April nanti bisa panen raya. Nah, ini sebenarnya, di bulan April ini diprediksi sampai 5 juta ton. Ini juga sangat tinggi produksi yang akan dihasilkan,” lanjutnya.
Data Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 juga menunjukkan total ketersediaan beras diperkirakan menembus lebih dari 47 juta ton, berasal dari akumulasi stok awal dan produksi tahunan. Sementara kebutuhan nasional diperkirakan sekitar 31 juta ton sepanjang tahun, sehingga menghasilkan surplus yang signifikan.
Komoditas lain juga menunjukkan kondisi neraca yang positif. Jagung diproyeksikan memiliki stok akhir di 2026 sekitar 4,99 juta ton. Pada komoditas protein hewani, daging ayam ras mencatat stok akhir sekitar 1,7 juta ton, sementara telur ayam ras sekitar 949 ribu ton. Adapun gula konsumsi diperkirakan memiliki stok akhir sekitar 1,33 juta ton.
Ketut menilai, kondisi ini mencerminkan kuatnya produksi dalam negeri yang menjadi penopang utama ketersediaan pangan nasional.
Dia menambahkan bahwa sebagian besar komoditas pangan strategis nasional memang ditopang oleh produksi domestik, sehingga memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan.
“Komoditas seperti cabai, bawang merah, telur, ayam, itu produksi dalam negeri semua. Jadi kita sudah sangat-sangat sufficient, sangat kuat produksinya,” jelasnya.








