Trump Ancam 'Lumpuhkan' Listrik Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka dalam 48 Jam
WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan "melenyapkan" pembangkit-pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya dalam waktu 48 jam. Ini merupakan eskalasi signifikan yang terjadi hanya sehari setelah ia sempat berbicara tentang "mengakhiri" perang.
"Jika Iran tidak membuka sepenuhnya tanpa ancaman Selat Hormuz dalam waktu 48 JAM dari titik waktu ini, Amerika Serikat akan menyerang dan melenyapkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar," tulis Trump di media sosial pada pada Sabtu 21 Maret 2026.
Ultimatum Trump akan memperluas cakupan serangan AS ke infrastruktur yang berdampak langsung pada kehidupan sipil di Iran. Ancaman serangan Iran membuat sebagian besar kapal tidak dapat melewati selat tersebut, jalur perairan sempit yang menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global, sehingga mengancam terjadinya guncangan energi dunia. Penutupan jalur tersebut menyebabkan harga gas di Eropa melonjak hingga 35 pada pekan lalu.
Buntut Kericuhan Kontra Ratchaburi FC, Persib Bandung Resmi Tutup Tribun Selatan Stadion GBLA
Markas komando militer Khatam al-Anbiya Iran menyatakan pada Minggu (22/3/2026), jika AS menyerang infrastruktur bahan bakar dan energi Iran, maka Iran akan menargetkan seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi (penyulingan air laut) milik AS di wilayah tersebut.
Eskalasi Konflik dan Ancaman Rudal Jarak Jauh
Harga energi melonjak pekan lalu setelah Iran membalas serangan Israel terhadap ladang gas utamanya dengan menyerang Kota Industri Ras Laffan di Qatar. Fasilitas tersebut memproses sekitar seperlima LNG dunia dan mengalami kerusakan yang diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.
Ancaman terhadap infrastruktur Teluk ini muncul saat konflik memasuki wilayah baru yang berbahaya. Pejabat Israel menyatakan pasukan Iran untuk pertama kalinya telah menembakkan rudal jarak jauh, yang memperluas risiko serangan ke luar Timur Tengah, bahkan saat serangan Iran melukai puluhan orang di lokasi yang tidak jauh dari situs nuklir Israel.
Kepala militer Israel, Eyal Zamir, mengatakan Iran meluncurkan dua rudal balistik dengan jangkauan 4.000 km (2.500 mil) ke arah pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia. Militer Israel menyebutkan ini adalah pertama kalinya Iran menggunakan rudal jarak jauh sejak Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari.
"Rudal-rudal ini tidak ditujukan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencapai ibu kota negara-negara Eropa – Berlin, Paris, dan Roma, semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung," ujar Zamir pada Sabtu.
Sebuah sumber di kementerian pertahanan Inggris mengatakan serangan tersebut terjadi sebelum pemerintah memberikan otorisasi khusus pada Jumat bagi AS untuk menggunakan pangkalan militer Inggris guna melakukan serangan terhadap situs-situs rudal Iran. Lebih dari 2.000 orang telah tewas selama perang berlangsung. Di Israel, 15 orang dilaporkan tewas akibat serangan Iran.










