PSSI Suarakan Perlawanan Terhadap Kekerasan Seksual: Komitmen Melindungi Masa Depan Atlet Indonesia
DUNIA olahraga nasional tengah diguncang oleh mencuatnya kasus kekerasan seksual yang menimpa atlet panjat tebing dan kickboxing. Merespons situasi darurat tersebut, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui Sekretaris Jenderal Yunus Nusi dan Anggota Komite Eksekutif (Exco) Vivin Cahyani Sungkono, menyatakan sikap tegas untuk memberantas para predator seksual di lingkungan olahraga demi menjaga marwah prestasi bangsa.
Yunus Nusi mengecam keras tindakan terduga pelaku yang dinilai mencederai nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi dalam dunia olahraga. Dia menegaskan bahwa olahraga seharusnya menjadi ruang yang menjunjung sportivitas, rasa saling menghormati, serta integritas.
Bos Pramac Racing Puji Adaptasi Toprak Razgatlioglu: Bakat Besar yang Siap Guncang MotoGP 2026
“PSSI sangat menyayangkan kekerasan seksual yang menimpa atlet kita. Olahraga dibangun di atas nilai sportivitas, rasa saling menghormati, dan integritas. Kekerasan seksual jelas merupakan tindakan yang mencederai nilai-nilai tersebut dan tidak boleh mendapat tempat dalam ekosistem olahraga. Kejadian ini bukan hanya menyedihkan bagi atlet sebagai korban ataupun keluarganya saja, tapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia karena para atlet tersebut sudah memberikan prestasi baik untuk daerah mereka ataupun untuk bangsa,” tegas Yunus Nusi dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (14/3/2026).
Yunus berharap dua kasus yang mencuat tersebut dapat ditangani secara serius, profesional, dan transparan oleh aparat kepolisian. Menurutnya, proses hukum yang jelas sangat penting untuk memastikan para korban memperoleh keadilan.
1. Dukungan Penuh Terhadap Langkah Menpora
Pria berusia 56 tahun itu juga mengapresiasi langkah cepat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, yang menunjukkan komitmen dalam mengawal kasus tersebut. Selain itu, Yunus menilai Menpora Erick aktif membuka ruang pengaduan bagi para atlet agar kasus serupa dapat segera ditindaklanjuti.
Menpora Erick Thohir Sebut Paralympic Training Center Karanganyar Terbaik di Asia Tenggara
“Kita berterima kasih kepada Bapak Menpora karena terus mengawal kasus ini, dan melakukan langkah cepat untuk membuka pengaduan atlet. Dengan perhatian yang ditunjukkan Menpora, maka kita harap setiap cabor juga fokus menjaga keamanan para atletnya, sehingga kasus seperti ini tak terulang,” ujar Sekjen PSSI tersebut.
Sikap tegas juga disampaikan Vivin Cahyani Sungkono. Wanita berusia 52 tahun itu menilai dunia olahraga harus menjadi ruang aman bagi para atlet untuk berlatih, berkembang, dan meraih prestasi tanpa rasa takut.
“Atlet adalah kebanggaan bangsa yang harus kita jaga dan lindungi. Mereka berhak berlatih, bertanding, dan berkembang dalam lingkungan yang aman terlindungi bukan malah menjadi ruang yang menimbulkan trauma. Untuk para predator di dunia olahraga, tidak ada kata toleransi. Kami menuntut hukuman yang setimpal dan seberat-beratnya sesuai undang-undang yang berlaku. Hukuman ini sebagai pesan tegas bahwa dunia olahraga Indonesia adalah wilayah terlarang bagi pelaku kekerasan. Kita harus memastikan para pelaku ini mendapatkan efek jera yang nyata agar tidak ada lagi masa depan atlet yang dikorbankan,” ujar Vivin.
2. Pencegahan dan Penguatan Regulasi di Lingkungan Federasi
Vivin menambahkan bahwa pencegahan kasus serupa di lingkungan sepak bola membutuhkan langkah konkret dari seluruh pihak. Dia menilai sistem perlindungan atlet harus diperkuat melalui advokasi terhadap korban serta penegakan regulasi yang tegas.
Selain itu, federasi perlu memperkuat kode etik yang melarang segala bentuk kekerasan di lingkungan olahraga. Edukasi dan sosialisasi juga harus terus dilakukan kepada atlet, pelatih, dan ofisial mengenai batasan perilaku profesional.
“Kita ingin para atlet fokus pada prestasi tanpa dibayangi rasa takut atau tekanan. Karena itu, semua pihak harus bekerja bersama memastikan sistem perlindungan yang kuat benar-benar berjalan. Melindungi atlet bukan hanya tanggung jawab federasi, tetapi tanggung jawab kita bersama. Kita harus memastikan bahwa dunia sepak bola Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, profesionalitas, dan rasa hormat,” tutupnya.










