Rupiah Diprediksi Merosot ke Rp22.000 per USD di Kuartal III-2026, Ini Penyebabnya

Rupiah Diprediksi Merosot ke Rp22.000 per USD di Kuartal III-2026, Ini Penyebabnya

Ekonomi | okezone | Rabu, 11 Maret 2026 - 07:35
share

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi melemah hingga level Rp22.000 per dolar AS pada kuartal III-2026. Pelemahan ini disebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bisa melambat hingga sekitar 3 dan bahkan berpotensi masuk ke jurang resesi pada kuartal IV-2026.

"Outlook ke depan, kembali lagi saya ramalkan. Dolar kemungkinan ke Rp22 ribu di bulan Juli. Rp17 ribu sudah terjadi ya. Dan di Q3, Rp22 ribu ramalan saya. Lantas di Q3, bukan tidak mungkin pertumbuhan kita last di 3, bahkan bisa resesi di Q4," kata pakar ekonomi, Ferry Latuhihin, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, proyeksi tersebut bukan sekadar spekulasi, melainkan didasarkan pada analisis data dan tren ekonomi yang terjadi saat ini. Ferry juga menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan masih menghadapi tekanan yang cukup besar.

Ia menyebut outlook ekonomi nasional saat ini terlihat suram jika melihat berbagai indikator yang berkembang. Di sisi lain, Ferry menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai menghadapi keterbatasan anggaran lantaran adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga pemerintah dituntut untuk menentukan prioritas penggunaan anggaran secara lebih selektif.

"Moody's, S&P, Fitch Ratings sekarang memberikan warning yang lebih dalam lagi, bukan tidak mungkin kita menjadi non-investment grade. Ini baru outlooknya saja yang di-downgrade, belum ratingnya. Nah, kalau itu terjadi, there will be a huge capital flight," jelas Ferry.

Ia juga menilai tekanan terhadap nilai tukar Rupiah saat ini cukup besar. Bahkan, menurutnya, tanpa intervensi kuat dari otoritas moneter, pelemahan Rupiah berpotensi terjadi lebih dalam.

"Sekarang saja, kalau nggak BI all out melakukan intervensi, sudah tembus tujuh, kemarin diperdagangkan Rp17.300, di bank-bank, di luar forex market, ya, detail market namanya," ungkapnya.

Ferry menambahkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dari kondisi domestik. Ia mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 yang dilaporkan sebelumnya justru diikuti dengan penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat internasional.

 

Menurutnya, pelemahan Rupiah juga terjadi di tengah kondisi di mana beberapa mata uang negara lain justru menguat terhadap dolar AS. Hal tersebut, kata dia, menunjukkan adanya tekanan pada fundamental ekonomi domestik.

Selain itu, ia menilai dinamika geopolitik global juga dapat memperburuk tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Ia menyinggung konflik yang melibatkan Iran yang berpotensi menambah beban terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Lebih lanjut, Ferry menekankan bahwa kebijakan ekonomi pada dasarnya merupakan soal pilihan di tengah keterbatasan anggaran. Pemerintah, menurutnya, harus menentukan prioritas yang paling optimal dalam penggunaan anggaran negara.

"Yang namanya ekonomi, it is a matter of choice. Kita punya budget constraint, nggak bisa enak-enak membeli ini dan membeli itu, membiayai ini dan membiayai itu, semua ada constraint-nya. Dalam budget constraint itu kita harus memilih yang optimal," jelas Ferry.

Topik Menarik