Fitch Revisi Outlook Utang Indonesia Jadi Negatif, Ini Langkah OJK
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kondisi sektor keuangan Indonesia tetap kuat dan stabil meskipun lembaga pemeringkat Fitch Ratings merevisi outlook atau prospek peringkat kredit (sovereign rating) Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, Fitch masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB, yang menunjukkan fundamental ekonomi nasional tetap dinilai kuat oleh lembaga pemeringkat global tersebut.
"OJK mencermati revisi outlook oleh Fitch Ratings beserta berbagai pertimbangan yang mendasari penilaian tersebut," ujar Friderica dalam keterangan resmi, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Dia menjelaskan OJK bersama pemerintah dan otoritas terkait terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga kondisi sektor keuangan tetap kondusif sehingga pertumbuhan ekonomi nasional dapat berlangsung secara stabil dan resilien.
Menurut Friderica, sistem keuangan Indonesia saat ini didukung oleh kerangka pengawasan yang kuat. OJK juga terus melanjutkan berbagai reformasi struktural guna meningkatkan transparansi, memperdalam pasar modal, serta memperkuat kepercayaan investor dalam jangka panjang.
"Sistem keuangan Indonesia juga tetap didukung oleh kerangka pengawasan yang kuat, dan kami akan terus melanjutkan reformasi struktural untuk meningkatkan transparansi, memperdalam pasar modal, serta memperkuat kepercayaan investor dalam jangka panjang," kata Friderica.
Fitch sendiri menyebut revisi outlook tersebut mencerminkan dinamika perkembangan risiko eksternal dan kebijakan global, serta tidak secara langsung merepresentasikan penilaian ulang terhadap fundamental kredit Indonesia maupun ketahanan sistem keuangan nasional.
Penegasan peringkat BBB oleh Fitch juga dinilai sebagai pengakuan atas rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan yang tetap resilien, tingkat utang pemerintah yang moderat, serta fundamental ekonomi yang secara umum tetap kuat.
Friderica menambahkan fundamental sektor keuangan domestik juga masih solid. Permodalan lembaga jasa keuangan berada jauh di atas ketentuan minimum, likuiditas tetap memadai, dan profil risiko industri keuangan tetap terkelola secara prudent.
Selain itu, intermediasi keuangan juga terus tumbuh sejalan dengan fundamental ekonomi, sehingga mampu mendukung pembiayaan sektor produktif serta pembangunan jangka panjang.
Di sisi lain, OJK juga terus menjalankan agenda reformasi struktural melalui Roadmap Pasar Modal 2023-2027. Reformasi tersebut mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham, penguatan ketentuan free float, penyempurnaan klasifikasi data investor, serta penegakan hukum yang lebih tegas untuk memperkuat tata kelola dan integritas pasar.
OJK juga menilai penilaian Fitch yang menempatkan Indonesia relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara peers mencerminkan kepercayaan terhadap kapasitas kebijakan dan ketahanan institusional Indonesia.
Sebagai anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), OJK akan bekerja sama dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memastikan keselarasan dan konsistensi implementasi kebijakan, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
OJK menilai permintaan domestik yang stabil, pengelolaan kebijakan yang prudent, serta keberlanjutan agenda reformasi akan menjadi fondasi kuat bagi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
"OJK menegaskan bahwa reformasi yang kredibel, pengawasan yang kuat, dan koordinasi kebijakan yang erat akan semakin memperkuat ketahanan sektor jasa keuangan serta meningkatkan kepercayaan investor," ujar Friderica.








