Banjir Kepung Tiga Daerah di NTB: Satu Warga Meninggal, Lebih dari 2.000 KK Terdampak
JAKARTA – Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tiga wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat, dikepung banjir. Akibatnya, satu warga meninggal dunia dan lebih dari 2.000 kepala keluarga (KK) terdampak.
Banjir pertama terjadi di Kabupaten Lombok Timur yang dipicu hujan lebat disertai angin kencang. Peristiwa tersebut menyebabkan satu warga hilang terseret arus pada Selasa (24/2) siang.
"Saat ditemukan beberapa jam kemudian, korban sudah tidak bernyawa. Selain itu, sebanyak 604 kepala keluarga (2.848 jiwa) yang tersebar di 11 desa dan satu kelurahan terdampak," ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Rabu (25/2/2026).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Timur dan Provinsi NTB dikerahkan untuk melakukan upaya penanganan darurat, mulai dari pendataan hingga pencarian dan pertolongan korban.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Provinsi NTB juga telah mendirikan tenda darurat di Desa Pijot, Kecamatan Keruak, untuk penanganan warga terdampak. Hingga Selasa malam, banjir masih menggenangi wilayah terdampak dengan ketinggian air bervariasi.
Sementara itu, di Kabupaten Lombok Tengah, kata Aam—sapaan Abdul Muhari—banjir berdampak pada 12 desa di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Pujut, Praya Timur, dan Praya Barat pada Selasa (24/2). Tercatat 1.115 KK terdampak dengan ketinggian air yang juga bervariasi.
BPBD Provinsi NTB menuju lokasi dengan membawa bantuan logistik berupa tiga unit tenda, lampu, perahu, genset, alas tidur, dan mi instan. Petugas terus memantau dan memperbarui pendataan karena banjir masih menggenangi wilayah terdampak.
Di Kabupaten Lombok Barat, banjir terjadi di Desa Tempos, Kecamatan Gerung, pada Selasa (24/2). Peristiwa ini menyebabkan 35 unit rumah terdampak. Selain itu, satu akses jalan terganggu akibat tergerus derasnya arus hingga memakan setengah badan jalan.
“Petugas memasang garis pengaman (safety line). Sementara itu, warga diimbau meningkatkan kewaspadaan apabila melintasi jalur Desa Tempos yang terdampak,” jelasnya.
Menyikapi berbagai kejadian tersebut, Aam mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan, terutama menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah.
“Masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai diimbau untuk secara berkala memantau ketinggian muka air. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi lama, warga disarankan melakukan evakuasi mandiri jika diperlukan,” imbaunya.










