Kisah Heroik Serma Durman, Anak Buah Luhut yang Berpuasa Sambil Bertempur saatOperasi Seroja

Kisah Heroik Serma Durman, Anak Buah Luhut yang Berpuasa Sambil Bertempur saatOperasi Seroja

Nasional | okezone | Jum'at, 20 Februari 2026 - 03:00
share

JAKARTA – Operasi Seroja yang digelar TNI di Timor-Timur (kini Timor Leste) menyimpan banyak cerita heroik. Salah satunya dialami mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan.

Luhut pun membagikan kisah seorang anak buahnya prajuritnya yang tetap berpuasa di bulan Ramadhan saat pertempuran Operasi Seroja di Timor-Timur.

"Bicara tentang puasa, saya teringat kepada salah seorang anak buah yang rajin berpuasa walau saat sedang berada di tengah medan perang. Namanya, Sersan Mayor Durman, Caraka saya di Kompi A Denpur-1/Parako dalam operasi tempur di Timor Portugis tahun 1975–1976," ujar Luhut dikutip Okezone, Kamis (19/2/2026).

Ketua Dewan Ekonomi Nasional ini mengatakan, sepanjang berlangsungnya operasi, sebagai seorang Muslim Durman tetap menjalankan ibadah puasa. Berpuluh kilogram beratnya ransel di punggung, tidak pernah membatalkan niatnya untuk terus berpuasa.

Dalam pertempuran, perlengkapan yang dibawa setiap prajurit memang cukup berat. Beberapa di antaranya berupa senapan otomatis AK-47, 750 butir peluru kaliber 7,62 mm, 3 magasin lengkung, 2 granat, bekal makan untuk beberapa hari, baju loreng, kaos, sepatu lapangan, dan topi rimba.

"Belum lagi setiap regu masih harus membawa senapan mesin RPD, peluncur roket RPG-2 buatan Yugoslavia, 60 peluru roket 90 mm, penyembur api lengkap dengan 5 mortir dan 18 butir peluru," ujarnya.

Luhut melanjutkan, operasi yang dijalankan adalah operasi yang cukup berat dan banyak merenggut korban.

"Kami di Kompi A mengawali operasi ini pada 7 Desember 1975 dengan kekuatan 110 orang prajurit. Tapi pada Maret 1976, jumlahnya bersisa menjadi 80 orang saja," ungkapnya.

Selama lima bulan operasi, kompi yang dipimpin Luhut melakukan pertempuran setiap hari. Fierce battle istilahnya. Pertempuran berhadapan dengan pasukan Fretilin yang mempunyai motivasi tempur tinggi, kemampuan serta disiplin menembak prima, dan menguasai medan dengan sempurna.

 

"Di tengah operasi yang melelahkan tersebut selalu ada waktu untuk istirahat makan. Yang kami makan adalah bekal makanan kaleng T-1. Setiap siang Durman dengan setianya membukakan kaleng makanan dan menyodorkannya kepada saya," tuturnya.

Ada kalanya juga dia memasak makanan sendiri ketika merasa bosan dengan menu ransum tempur itu. Namun apa pun menunya, Durman tetap berpuasa dan tidak pernah batal.

"Penasaran, saya pun bertanya kenapa dia tetap berpuasa di tengah kondisi seperti ini. 'Biar lebih dekat dengan Tuhan,' jawabannya yang tidak pernah saya lupakan," ucapnya.

Jawaban itu kata Luhut seolah menunjukkan betapa fokusnya dia pada hubungan dengan Tuhan-nya.

"Tapi bagi saya, Durman juga telah menunjukkan penghormatannya kepada tugas negara dan atasannya dengan tetap bertempur dan menyediakan makanan bagi saya selaku komandannya di Kompi A. Hebat!" tegasnya.

"Anak buah saya ini sekarang tinggal di Banten. Terakhir kami bertemu di acara reuni tahun lalu di Cijantung. Jika ada kesempatan, saya ingin Durman dapat menceritakan pengalamannya kepada Saudara-Saudari sekalian sehingga kita dapat belajar bahwa betapa indahnya harmoni di Negeri ini jika kita dapat saling menghormati," tutup Luhut.

Topik Menarik