Kisah Maria Febe Kusumastuti, Mantan Pebulu Tangkis Andalan Indonesia yang Temukan Kedamaian dalam Islam
DUNIA bulu tangkis Indonesia tidak hanya menyimpan cerita tentang medali dan rivalitas di atas lapangan, tetapi juga kisah transformasi spiritual yang mendalam. Salah satu yang paling menyentuh adalah perjalanan Maria Febe Kusumastuti.
Mantan tunggal putri peringkat 18 dunia ini memutuskan untuk memeluk agama Islam setelah melewati proses panjang yang bermula dari getaran suara azan. Lahir di Boyolali pada 30 September 1989, Maria Febe tumbuh dalam lingkungan keluarga Kristen yang taat.
Namun, sejak kecil, Maria Febe memiliki ikatan batin yang unik dengan suara azan. Baginya, panggilan salat tersebut bukan sekadar suara, melainkan sesuatu yang memberikan rasa nyaman dan ketenangan luar biasa di hatinya setiap kali terdengar.
1. Jejak Prestasi
Sebelum memutuskan untuk berhijrah secara spiritual, Maria Febe adalah sosok petarung yang disegani di sirkuit BWF. Puncak performanya terjadi pada tahun 2010, di mana ia berhasil menembus jajaran elit dunia dengan menduduki peringkat ke-18.
5 Pebulu Tangkis Dunia dengan Hadiah Uang Terbanyak Sepanjang Sejarah, Nomor 1 Tembus Rp40 Miliar!
Kualitas permainannya yang ulet membawanya merengkuh gelar juara di ajang internasional bergengsi seperti Australia Open dan Bitburger Open.
Tak hanya gemilang secara individu, Maria Febe juga menjadi pilar penting bagi tim beregu Indonesia. Ia merupakan bagian dari skuad Merah Putih yang sukses menyumbangkan medali perunggu di ajang Piala Uber 2010.
Pada tahun yang sama, dedikasinya kembali terbayar dengan raihan medali perunggu di Asian Games 2010, membuktikan bahwa Maria Febe adalah salah satu tunggal putri terbaik yang pernah dimiliki Indonesia pada masanya.
2. Terima Hidayah
Langkah besar Maria Febe untuk menjadi seorang mualaf mulai menemui titik terang saat ia menghuni Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) PBSI. Berada di lingkungan yang mayoritas muslim membuatnya semakin akrab dengan ajaran Islam.
Maria Febe pun mulai mengamati rekan-rekan atletnya beribadah, bahkan sempat merasa tertarik saat melihat suasana hangat pelaksanaan salat Tarawih di bulan Ramadan.
Keinginan yang terpendam sejak kecil itu akhirnya memuncak pada tahun 2013. Di hadapan saksi di lingkungan Pelatnas, Maria Febe mantap mengucapkan dua kalimat syahadat.
Keputusan ini diambil secara sadar sebagai bentuk pencarian kedamaian batin yang selama ini ia rasakan setiap kali mendengar azan. Transformasi itu menjadi babak baru dalam perjalanan hidup Maria Febe.










